Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Antisipasi Ekspansi Ritel Asing

Antisipasi Ekspansi Ritel Asing
Oleh : Ali Damsuki*
Di tengah arus Globalisasi, Indonesia telah dirundung berbagai tantangan ekonomi dunia. Perlu dipahami bahwa, di tengah arus globalisasi dan kecenderungan pasar yang semakin liberal. Perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat saat ini, banyak hal-hal yang perlu di antisipasi. Terutama para pebisnis lokal kecil dan menengah untuk terus meningkatkan kualitas manajemen serta perluasan jaringan kerjasama di tengah persaingan bisnis yang semakin terbuka bagi pemain-pemain asing ke depan.
Munculnya pertokoan modern asing yang mulai berekspansi di dalam negeri. Serta kehadiran merek luar itu mulai menjadi ancaman bagi pelaku ekonomi lokal. Sebab, konsep ekonomi barat selalu memberikan kepuasaan baik secara jaminan kualitas dan pelayanannya terhadap konsumen. Dari kondisi tersebut, tentunya masyarakat Indonesia lebih cenderung mengkonsumsi barang atau produk merek asing daripada produk dalam negeri sendiri.
Sangatlah dibutuhkan keberpihakan pemerintah dalam menjaga eksistensi pertumbuhan toko modern asli Indonesia. Karena hal ini terjadi, merupakan implikasi dari pemberlakuan komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dari berbagai sektor, termasuk bisnis ritel.
Bisnis ritel menjdi objek sasaran oleh pihak asing, sebab dari kondisinya ritel Indonesia yang masih dalam kondisi memperihatinka. Serta budaya konsumtivisme masyarakata Indonesia yang cenderung pada kemewahan. Hal tersebut menjadikan senjata bagi pihak asing untuk memanfaatkan lahan kosong untuk memperkaya diri.
Selain rasio normal dari jumlah pasar yang dilayani dibandingkan dengan julah Outlet yang ada memang masih belum seimbang, faktor lain yang turut mendukung dikarenakan sektor usaha ini memang dianggap cukup mapan (enstablish) karena berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat dan tidak terlalu terpengaruh oleh dampak krisis. Masyarakat dalam kondisi apapun tetap membutuhkan jasa pelayanan ini karena menyangkut dengan kebutuhan sehari-hari (convenient goods). Di samping faktor penting lain seperti tingkat daya beli masyarakat yang terus mengalami perbaikan sejak krisis ekonomi, munculnya berbagai produk baru yag semakin variatif, perkembangan teknologi dan informasi dan lain sebagainya. Itu semua menjadikan bangsa Asing mudah memanfaatkannya dari sektor ekonomi.
Kelola Ritel Dalam Negeri
Pengusaha ritel lokal harus bersiap-siap dalam menghadapi gempuran ritel asing yang mempunyai kekuatan modal besar. Untungnya, selama beberapa tahun belakangan ini pertumbuhan minimarket lokal di Indonesia begitu pesat, sehingga diyakini mampu bersaing dengan ritel modern. 
Pengalaman yang cukup lama, bisnis permodalan yang kuat serta penguasaan teknologi yang lebih cangih dari pemain asing tentu akan dengan sangat cepat melibas para pemain-pemain lokal bila tidak terantisipasi dengan baik. Strategi-strategi inovatif perlu terus dikembangkan untuk mempertahankan pasar serta pengembangan pangsa pasar (market share) dari pasar potensial.
Untuk menghalau semua ancaman yang ada, model Toko komunitas (community store) diciptakan sebagai salah satu mengeloal ritel dalam negeri. Karena segmentasinya di dasarkan pada komunitas tertentu bisa jadi pilihan strategi para peritel lokal. Pada prinsipnya model pengembangan ini adalah pembentukan pasar yang spesifik pada target pasar yang masuk dalam skala ekonomis tertentu yang dijalin secara intensif dalam pola komunikasi tertentu. Praktek-praktek program lainnya adalah seperti pembentukan member benefit card, community club atau dalam model system poin partisipasi pada toko koperasi dengan pembagian keuntungan bersama.
Selain itu, peran Usaha kecil menengah yang bergerak di sektor ritel ini sebetulnya memiliki berbagai potensi yang cukup strategis untuk terus dikembangkan sebagai basis ekonomi rakyat dan daerah. Mengingat sektor usaha kecil memiliki fungsi srategis untuk menciptakan peluang kerja dan juga berwirausaha, sebagai stabilisator ekonomi, intermediasi produsen terhadap konsumen dalam memperlancar arus barang dan lain sebagainya. Dimana kesemuanya sesuai dengan visi pemerintah dalam mewujudkan system ekonomi kerakyatan dan menghadapi tantangan globalisasi. Sumbangsih dari berbagai pihak baik pemerintah maupun lembaga-lembaga nirlaba lainnya sangat diperlukan untuk menyiapkan mereka menghadapi era globalisasi.
Sehingga konstribusi mereka akan lebih baik lagi bagi perekonomian nasional. Untuk itu ada beberapa hal yang bersifat strategis yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam hal program perubahan mindset yang dapat disponsori juga oleh pemerintah, organisasi-organisasi nirlaba yang berhubungan dengan pembinaan usaha kecl dan menengah yang dikoordinasikian melalui basis asosiasi. Program-program ini dilakukan dengan berbagai kegiatan baik diperuntukan bagi pebisnis dan pelatihan, pendampingan manajemen dan lain sebagainya 
Program pengembangan teknologi dalam system agar dicapai efisiensi kerja yang maksimal serta pelayanan yang prima. Dukungan pemerintah secara kongkrit dalam penugasan terhadap lembaga perbankan dalam pengalokasian kredit tanpa jaminan terhadap peritel kecil/pemula dalam pengembangannya. Memberikan perlindungan bagi peritel kecil dan pertegasan sanksi hukum terhadap praktek undang-undang antimonopoli. Berperan sebagai fasilitator bagi munculnya persenyawaan sinergis kerjasama antar peritel kecil maupun dalam rangka menjalin hubungan kerjasama dengan pihak-pihak luar lainnya.
Persaingan global yang semakin terbuka pada saatnya akan membuat persaingan dalam bisnis ritel di Indonesia semakin ketat. Berbagai kelemahan para peritel kecil perlu segera di antisipasi sehingga dapat terus survivedan atau dapat mengembangkan sayap bisnisnya. Dalam hal ini perlu dilakukan diagnosa secara menyeluruh untuk menentukan strategi program yang penting dalam menghadapinya. Dukungan dari berbagai pihak dan terutama pemerintah dalam hal ini sangat penting agar para peritel kecil tetap eksis, setidaknya agar tidak tergilas habis. Wallahu a’lam bi al-shawaf.

*Pemerhati Sosial-Ekonomi di Semarang, Anggota FKPI UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Koran Madura, 10 Maret 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply