Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Pemuda dan Dekadensi Moral

Pemuda dan Dekadensi Moral
Oleh: Adkha Bukhori*

Perkembangan globalisasi sangat pesat. Dahulu, orang ingin bepergian ke lintas pulau butuh waktu berhari-hari, bulanan bahkan tahunan. Berbeda sekarang, perjalanan hanya ditempuh dalam waktu hitungan detik, menit, dan/atau jam, serta tanpa bersusah payah. Melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), seakan telah mengubah persepsi mindset ketidakmungkinan.
Makna tamsil ‘Globalisasi ibarat kotak tempurung’, berarti ruang manusia dalam berkomunikasi atau bersosialisasi sangat terbatas dan mudah. Dunia dianggap sangat kecil. Sehingga mereka dapat melakukan setiap pekerjaan dengan mudah dan gampang.
Menurut Thomas L. Friedman, globalisasi memiliki dimensi dan teknologi. Dimensi teknologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia. Maka, perkembangan globalisasi sangat bernilai baik.
Selain itu, wadah yang dapat membantu manusia dalam telaah pengetahuan, meningkatkan efektifitas pekerjaan, bahkan terjadinya akulturasi antar-budaya. Sehingga jika perkembangan arus globalisasi digunakan secara positif dapat memberikan kemanfaatan dan kenyamanan.
Disisi lain, jika perkembangan tersebut disalahgunakan, berimplikasi pada kemadharatan. Manusia sebagai pelaku utama, seharusnya mampu menempatkan diri dalam menghadapi arus globalisasi secara baik.
Kemunculan pengaruh globalisasi sangat banyak sekali. Kriminalitas muncul dimana-mana dan semakin merajalela. Beberapa diantara mereka menganggap hal yang tabu menjadi sesuatau yang lumrah. Selain itu, tindak penipuan sangat ramai, baik berupa jasa maupun lainnya. Seakan menjadi ‘warning’. Dengan harapan, tidak salah dalam menggunakan perkembangan globalisasi yang kian pesat. Ironis, ketika perkembangan globalisasi tidak digunakan semestinya. Sebaliknya, seakan menjadi bumerang yang berakibat pada kemunduran sosial, istilah lain ‘dekadensi moral’.
Dalam sejarah Islam, masyarakat jazirah arab pernah mengalami dekadensi moral, yakni dimasa Jahiliyah. Padahal, secara pengetahuan mereka pandai dan cerdas, tetapi moralitas bobrok dan rusak. Masyarakat jahiliyah bukanlah tatanan masyarakat gagap keilmuan atau pengetahuan. Melainkan keyakinan dan moral mereka yang bejat.
Kaum Jahiliyah saling memperbodoh diri dengan keyakinan sesat yang dianut. Begitu pula, moralitas mereka sangat menjijikan. Seperti, tindakan mengubur hidup-hidup bayi perempuan, perjudian, serta melakukan perzinaan, itu mereka lakukan tanpa rasa malu.
Deskripsinya, masyarakat jahiliyah kuno dan moderen, memilki kemiripan. Jikalau dahulu, mereka mengubur bayi perempuan. Kini, muncul kasus praktek aborsi, dengan menggugurkan janin dalam kandungan tanpa dosa. Apalagi tempat lokalisaksi yang semakin marak. Dewasa ini, sebagaian kaum remaja seringkali masuk kedalam limbah kemaksiatan.
Orang sudah tidak memperdulikan antara yang hak dan bathil. Perbuatan yang benar dianggap salah. Begitu pula sebaliknya. Tatanan seperti inilah, diasumsikan sebagai ‘Jahiliyah Moderen’.
Tatanan masyarakat harus kembali pada agama, norma dan adat-istiadat masing-masing. Tugas dan tanggung jawab bersama agar tidak terjerumus dalam limbah kesesatan arus globalisasi. Bangsa Indonesia sebagai negara yang dikenal ramah, dan santun. Seakan telah luntur akibat moralitas rusak masyarakat itu sendiri. Sehingga masyarakat harus bangkit demi mengembalikan martabat bangsa yang telah tergerus oleh arus perkembangan globalisasi.

Langkah kebangkitan dari keterpurukan harus segera dilakukan. Hal tersebut dilakukan melalui peran pemerintah dan masyarakat agar tetap melestarikan budaya bangsa. sehingga mampu memfilter budaya yang masuk pada bangsa ini. Penanaman moral dan spritual sangat diperlukan. Demi meningkatkan kualitas keimanan terhadap Tuhan. Yakin bahwa apapun yang kita lakukan selalu dalam pengawasan. Wallahu’alam bis showab.
 *Aktivis di KMPSM (Komunitas Mahasiswa Peduli Sosial Masyarakat)Walisongo Semarang
Dimuat di Harian Jateng Pos, 11 Maret 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply