Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » » Abah: Berhati-hatilah dengan Cinta

Aku sudah bilang, wahai anak-anakku.
Rasa cinta kepada lawan jenismu belum akan bermanfaat bagimu.
Rasa itu belum akan menguatkanmu, apalagi untuk membuat mahakarya sebesar Taj Mahal.
Sebaliknya, bagi kalian, rasa itu akan menimbulkan kelemahan, karena mengalokasikan energi untuk yang tidak seharusnya, dan ditambah lagi dengan linangan air mata.
Pada saatnya, cinta yang menguatkan dan benar-benar menghasilkan mahakarya akan datang.
Dan pada saat itulah, kebahagiaan akan melimpahi hidup kalian.
Cinta itu sesungguhnya energi yg sangat besar.
Jika kita memilikinya pada saat yang tepat, maka akan ada banyak mahakarya yang kita cipta.
Namun, jika ada pada saat yang tidak tepat, energi itu bisa merusak pemiliknya dan menyebabkan kerugian besar.
Berhati-hatilah dengan cinta.
Kendalikan hati. Dan kita mesti bisa menentukan kapan dan kepada siapa kita jatuh cinta.
Cinta itu mirip hewan liar.
Agar tidak lari ke sana kemari, maka harus diikat.
Ikatannya adalah pernikahan.
Hati-hati dengan hatimu. Jangan sampai cinta mempermainkanmu.
Hati-hatilah dengan rasa cinta.
Dia bisa melahirkan kekuatan besar.
Jika arahnya baik, bisa menghasilkan.
Jika buruk, daya rusaknya juga dahsyat.
Cinta pd waktu yg tepat itu menentramkan.
Namun, pd waktu yg tidak tepat, bisa menyebabkan kegalauan berkepanjangan.
Bahkan bs menyebabkan penyesalan sepanjang usia.
Tentukan saat rasa cintamu harus dihilangkan, dikendalikan, atau dikembangkan.
Gantilah prinsip "kita tidak bisa memilih unt jatuh cinta pada siapa dan kapan" dg "kita bisa memilih unt jatuh cinta kpd siapa & kapan saatnya".
Yang masih terlalu muda, tahan diri dulu.
Persiapkan diri dengan baik.
Gunakan waktu kalian untuk menghafalkan al-Qur'an.

"Cinta uang adalah akar segala kejahatan. Cinta ilmu adalah pintu pembuka cakrawala dunia, juga untuk mengenal penciptanya. Cinta Allah adalah pembuka pintu surga."

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

1 komentar: