Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Kualitas Guru dan Pembelajaran Efektif

Wafirudin*
Kita yakin dan sepakat bahwa guru merupakan seseorang yang dapat dijadikan teladan bagi siswa dan masyarakat.Tak ayal jika dalam struktur sosial, guru menempati kedudukan terhormat. Setidaknya atas pandangan inilah masyarakat berharap banyak terhadap guru supaya mencerdaskan dan membimbing serta mendidik siswa menuju manusia berakhlak mulia.
Dalam bahasa jawa, guru adalah sosok orang yang harus di gugu lan ditiru.Harus diguguartinya segala sesuatu  yang disampaikan  harus ditaati dan diyakini merupakan suatu kebenaran oleh semua siswa. Sedangkan,ditiru artinya guru harus menjadi suri tauladan (panutan) bagi semua siswa dalam menjalani roda kehidupan sehar-hari. Secara umum, guru adalah seseorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan pelajaran atau materi kepada siswa. Guru sebagai pendidik, diibaratkan sebagai  “ibu kedua” setelah orang tua yang berperan sebagai fasilitator dan motivator siswa supaya dapat belajar dan mengembangkan potensi yang terkubur dalam diri siswa.
Guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab mendidk dan memberi bantuan terhadap siswa dalam perkembangan jasmani dan rohani, agar mampu tumbuh dewasa dengan berdikari dan dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai khalifah Allah di muka bumi, sebagai makhluk sosial yang sanggup berkreasi dan mandiri( Noor Jamaluddin1978:1).
Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005, guru adalah pendidk profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, menilai, melatih dan mengevaluasi siswa pada pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Kemampuan Plus-Plus
 Diharapkan guru dapat memancing potensi yang ada dalam diri siswa dan memanfaatkan secara optimal, sehingga siswa menjadi cerdas.  Namun, ruang lingkup yang berbeda,guru mengajar siswa di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Akan tetapi, orang tua mengajar di rumah kapan dan dimana-pun, karena guru harus sejati dan mencerdaskan. Artinya yang perlu disoroti disini ialah semangat guru dalam mengemban tugas mulia.
Yang paling utama ialah, guru harus memnuhi kualifikasi akademik dam kriteria Plus-plus. Artinya, selama ini banyak guru yang pintar, pandai dalam segi akademik, namun belum mampu memberikan motivasi dan semangat untuk mengarahkan bagaimana seorang siswa semangat dalam belajar. Oleh sebab itu, selain guru harus pintar dan cerdas, harus bisa menjadi guru sejati dan mencerdaskan. Harus bisa memberi motivasi dan dan gagasan cemerlang kepada siswa.  Inilah yang disebut kemampuan plus-plus.
Guru “Aspal”
Untuk menunjang pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, tentu harus ada dukungan dari berbagai kalangan. Baik dari masyarakat, orang tua maupun pemerintah. Dalam arti pemerintah harus memperhtiakn apakah lembaga pendidkan tersebut bersih atau tercemar polusi. Namun, apa yang terjadi, seperti kasus pencemaran udara yang terjadi di Sekolah Dasar 04 Srondol Wetan Kota Semarang. Setiap berangkat sekolah, siswa-siswa harus menggunakan masker gara-gara bau tak sedap yang disebabkan oleh sampah yang di buang sekitar sekolah tersebut.
Akibatnya, proses KBM tidak berjalan mulus. Sehingga kepala Dinas Kota Semarang, Bunyamin memberi sebutan sekolah tersebut adalah “SD sampah” karena pencemaran udara dari tempat pembuangan sampah(Wawasan 12\02\15)olek karena sampah yang aromanya mengganggu aktivitas belajar di SD tersebut, pemerintah harus kerjasama dengan pihak terkait termasuk Dinas Pasar dan Dinas kebersihan dan pertamanan untuk merelokasi pembuangan sampah, supaya proses belajar mengajar kembali nyaman. Sehingga terciptanya sekolah yang ramah anak dan ramah lingkungan.
Di era globalisasi seperti saat ini, guru di tuntut untuk pragmatis. Artinya, seorang guru harus mendahulukan yang lebih penting. Dalam konteks ini adalah siswa. Sebab, guru adalah sumber pengetahuan bagi siswa. Ketika siswa tidak mengetahui dalam sesuatu hal, maka yang ditanya adalah guru. Oleh sebab itu, guru harus siap dalam hal apapun demi kecerdasan siswa yang telah menjadi anak didiknya.
Setidaknya ada dua jenis guru. Yaitu “guru sejati” dan “guru aspal”. Guru sejati ialah mereka yang menjalankan tugas sebagai guru yang menjalankantugas mulianya dengan penuh kesabaran, semangat dan tanggung jawab demi terciptanya siswa yang cerdas dan kompeten dalam menghadapi arus globalisasi dan tantangan zaman yang semakin kompleks. Sedangkan “guru aspal” adalah mereka yang berorientasi pada “rupiah” belaka, mengajar tidak karena panggilan hati. Akibatnya orientasi dan tujuan dari mengajar menjadi sirna di kepalanya yang ada hanyalah “rupiah”.
Di sisi lain, munculnya kebijakan sertifikasi semakin menjadikan guru salah niat dalam mengajar. Padahal kebijakan tersebut bertujuan untuk menjadikan guru sebagai pendidik yang kreatif inovatif dan profesional dalam mengemban misi mencerdaskan anak bangsa, bukan hanya sekedar mengejar rupiah. Oleh sebab, itu niat harus diluruskan. Untuk meluruskan hal tersebut, stidaknya ada bebrapa cara yang harus di laksanakan. Pertama, meminimalisir adanya “guru aspal”. Sebab, apa artinya rupiah jika tidak mampu menjalankan tugas sucinya.

Kedua, mempertegas atau menperketat penerimaan guru. Baik berstatus swasta atau negeri. Sebab, selama ini kualitas dan misi guru perlu dipertanyakan apakah benar-benar mengajar atau hanya untuk mendapatkan “rupiah” belaka. Asalkan punya kenalan pihak sekolah, asalkan punya uang ratusan juta rupiah, akses menjadi guru lebih mudah dan dapat peluang lebih mudah. Tugas guru adalah suci dan mulia. Oleh sebab itu, jangan sampai tugas suci dan mulia tersebut dikotori dengan adanya niat yang hanya igin mendapatkan rupiah. Walahu a’lam bi al-Shawab.
*Sekretaris Kajian Agama, Negara, dan Budaya (KANeBA) UIN Walisongo Semarang, Mentor Kitab Kuning Monash Institute Semarang
Sumber: Suara Mahasiswa Bali Post, 17 Februari 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply