Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Video Game dan Karakter (Negatif) Anak

Oleh: Maslihan*
Tidak dapat dipungkiri, akhir-akhir ini banyak terjadi kekerasan terhadap anak. Kejadian diakibatkan karena faktor kelabilan anak-anak dalam menanggapi sesuatu yang diperoleh dari lingkungan. Sehingga, kurang kreatif dalam memilah dan memilih mana yang baik dan buruk dalam lingkungan tersebut. Begitu juga, ironi yang disuguhkan oleh berbagai teknologi seperti video game dan lain sebagainya, setidaknya juga menjadi pemicu di dalamnya.
Jika diusut lebih cermat dan teliti, video game merupakan salah satu faktor yang melatar belakangi terbentuknya psikis anak. Disadari atau tidak, seorang anak akan terpacu untuk meniru permainan yang dimainkannya. Dan dewasa ini, banyak diantara pecandu game yang mempraktekan aksi tersebut hingga merenggut korban jiwa. Seperti, kematian Reza Ikhsan Fadilah (9) siswa kelas III SDN Cincing I Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Bulan November tahun 2006 lalu. Reza meninggal akibat dianiaya –akibat meniru aadegan smack down-- tiga temannya yang senior dengan cara tubuh korban dibanting dan kepalanya dihujamkan ke lantai sehingga meninggal dunia. Ini membuktikan, bahwa video game yang salah tangan dapat merusak moral anak bangsa yang dapat menyebabkan kriminalitas.
Problem ini terjadi karena ketidak seimbangan antara pengawasan orang tua dengan aktivitas buah hatinya. Sehingga mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya memainkan video game yang tidak cocok untuk usia anaknya. Ketidaktahuan mengenai video game, sudah barang tentu dikarenakan orang tua dan anak hidup di masa yang berbeda. Akan tetapi, hal itu seharusnya tidak menyurutkan bagi sebagian orang tua yang gaptek (gagap teknologi). Mereka perlu mahir dalam  memilihkan video game dalam porsi yang pas dan menjadikan ajang pembelajaran serta kebutuhan anak.
Permasalahan itu juga diakibatkan terlalu masifnya rating video game. Sehingga, game mudah di akses yang sebenarnya tidak cocok untuk semua umur. Memang sistem video game di Indonesia kurang bahkan tidak dipilah mana yang cocok dan tidak ditingkat usiakan.
Berbeda halnya dengan Negara Paman Sam yang memiliki sistem pemilihan video game bagi para penggunanya seperti ESRB (Entertainment Software Rating Board).
Sistem ESRB ini seharusnya diterapkan di Indonesia, karena dengan adanya sistem ini, dapat meberikan efek positif bagi anak. Bagaimana tidak, ESRB ini mengkategorikan  jenis permainan. seperti: Early Childhood (untuk anak usia dini), Everyone(untuk semua umur), Everyone 10+ (untuk usia 10 tahun ke atas), Teen(untuk usia 13 tahun ke atas), Mature (untuk usia 17 tahun ke atas) dan Adults Only (untuk dewasa), serta satu kategori antara Rating Pending.
Pengkategorian permainan ini sangat berperan dalam pembentukan kepribadian anak. Sebab dalam praktiknya, permainan ini menyajikan game yang pas untuk usia tertentu. Bagi anak-anak, dapat menjadikan anak lebih kretif dalam memainkan permainan sekaligus dapat belajar yang efektif bagi perkembangan kognitif, motorik maupun sosial-emosional. Sehingga praktik delinkuen teratasi. Seharusnya, Negara Indonesia menerapakan pengkategorian game ini, supaya efek negatif dari game yang salah tangan dapat teratasi sehingga praktik delinkuen dapat diminimalisir.
Tidak lupa juga, bagi pecinta game yang sudah mengetahui rating game untuk berdiskusi bersama kepada orang tua dan guru. Supaya saling mengetahui permainan mana yang edukatif untuk anak. Wallahu a’lam bissowab.
*Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Jateng Pos, 28 Maret 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply