Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Perempuan Pofesi dan Ranah Domestik

Oleh : Ali Damsuki*
Sering kita lihat, baik di media massa maupun dalam realitas kehidupan, kerapkali terjadi (bullying) tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seorang laki_laki terhadap perempuan, baik secara fisik maupun mental. Banyak sekali kasus yang ditampilakn media terkait dengan kekerasan terhadap kaum perempuan. seperti tindakan Asusila, pemerkosaan, pencurian, atau bahkan pembunuhan terhadap kaum perempuan. Kondisi tersebut, menjadi hal yang sangat memilkukan. Walaupun tindakan tersebut menjadi kebiasaan yang sudah ada pada zaman kuno maupun zaman jahiliyah. Sebab, kaum perempuan selalu dijadikan ‘objek’  tindakan kekerasan dalam kehidupan dunia.
Deferensiasi yang terjadi dalam ranah perempuan memang sudah menjadi sebuah tradisi yang mengakar disebagian besar kalangan masyarakat Indonesia.  Perbedaan yang mencolok secara spesifik menjadi indikator bahwa, misogeni yang terjadi dalam masyarakat menjadi lebih mendalam, terutama terhadap kaum perempuan yang berada dalam ranah domestik. Stigmatisasi itulah yang seringkali menjadikan kaum perempuan menjadi lemah secara fisik maupun mental. Sebab, perempuan akan cenderung menggunakan hati dan fikiran_nya dalam berbagai hal ketika melakukan sesuatu. Sehingga, kaum perempuan akan selalu berhati_hati terhadap masalah yang ada.
Seiring dengan perkembangan zaman menuju Era modern, kaum perempuan telah mangalami evolusi mental secara signifikan. Secara fisik memang perempuan memiliki ukuran yang sama, namun disisi lain memiliki tanggung jawab yang berlebih (Under burden) ketika mereka berada dalam ranah luar domestik. Profesi dan status akan menjadi tugas yang harus dilakukan oleh kaum perempuan, sebagai kesetaraan gender terhadap kaum laki_laki.
Namun, kondisi tersebut tak dapat meminimalisir tindakan kekerasan yang ada. Akan tetapi, justru kekerasan merabak dan lebih parah. Seperti halnya, kekerasan  terhadap TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang bekerja di Luar Negeri.  Mereka bekerja dengan orientasi mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ketika bekerja di luar. Akan tetapi, tindakan kekerasan masih berlangsung, sampai bahkan mempertaruhkan nyawa demi merubah kondisi tersebut.  dari gambaran ini juga, melatarbelakngi munculnya gerakan feminisme oleh beberapa golongan, demi mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. seperti halny, tokoh (JIL) Amina Wadud dan Musda Mulia terjun dalam ranah politik perempuan, sebagai aspirasi terhadap peran pentingnya seorang perempuan. ini juga menunjukkan bahwa, perempuan profesi hanya meningkatkan status atau derajat dengan laki-laki dalam masyarakat, walaupun tidak secara keseluruhan dalam kehidupam.
Sebenarnya, kondisi tersebut tidak menjadi bias gender yang diharapakan. Sebab, realitas yang ada mayoritas kaum perempuan yang berprofesi akan cenderung melalaikan hakikatnya sebagai perempuan domestik yang notabennya mampu memanajemen urusan rumah tangga. Mereka akan cenderung menyewa tenaga kerja orang lain untuk mengurus rumah tangganya. Dari sinilah terjadi dikotomi antara perempuan domestik dengan dengan perempuan profesi secara tanggungjawab.
Potensi Perempuan Domestik
Memang secara kuantitas Indonesia banyak sekali didominasi perempuan yang berada dalam ranah domestik, terutama di desa. Akan tetapi, potensi yang dimiliki kaum perempuan domestik lebih mumpuni dan sistematis. Baik dari segi mengatur keuangan, megurus rumah tangga, melayani suami, maupun mendidik anak.
Ketika kita melihat potensi perempuan profesi, memang tidak jauh beda. Dengan skilldan kemampuan yang dimilikinya. Sebab, mereka mampu bekerja diluar secara profesioanal. Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa itu semua hanya bersifat transparansi semata. Banyak sekali prempuan yang memiliki profesi sebagai pejabat, artis, selebritis dan tokoh lain_nya telah kembali kepada ranah domestik. Kesadaran mereka akan pentingnya keluarga tidak dapat konversikan dengan profesi yang bersifat materialistik.
Dinamika kehidupan rumah tangga yang memiliki keterpihakan dua belah pihak dengan kesepakatan profesinal, lebih cenderung kan meminimalisir tindakan kekerasan terhadap kaum perempuan  dalam masyarakat, terutama Rumah Tangga. Ketika hakikat perempuan yang kehidupannya berada dalam ranah domestifikasi, maka optimalkan dengan kemampuan yang ada dengan baik. Sebab, perempuan yang pandai dalam ranah domestik akan lebih banyak dicari oleh laki-laki sejati. Fikiran dan hati perempuan domestik akan menjadi skill yang mampu melahirkan generasi unggulan bagi bangsa. Dari tindakan hal kecil oleh perempuan domestik, yang sebagian besar tidak disadari oleh orang. Ternyata memiliki implikasi yang sangat besar.
Penentu arah bangsa akan ditentukan oleh kaum perempuan. Bangsa dikatakan bermoral atau tidak, perempuan_lah yang menentukan. Generasi bangsa, dimulai dari peran perempuan. sebab, perempuan akan melahirkan generasi unggulan, ketika perempuan sadar akan peran,fungsi, dan tanggungjawabnya sebagai perempuan domestik. Maka, generasi unggulan yang bermoral akan ada. Sehingga, tindakan  kekersan yang difokuskan terhadap perempuan akan hilang dari berbgai aspek. Dari sini,Pentingnya peran perempuan tidak dapat digantikan oleh sifat materialistik perempuan yang berada dalam ranah profesi semata.Wallahu a’lam bi al-shawaf.

*Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Koran Madura Rabu, 18 Maret 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply