Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Guru dan Gadget

Oleh: Nurul Husna*
Dewasa ini, kita telah memasuki satu masa yang dikenal dengan era globalisasi. Ya, era yang dipandang oleh kebanyakan orang sebagai era pengetahuan atau digitalisasi. Sebab pengetahuan menjadi landasan pertama dan utama dalam segala aspek kehidupan. Bagi siapapun, baik para akademisi seperti penulis, guru, siswa, dosen, mahasiswa, maupun pebisnis, instansi pemerintahan, suka atau tidak, globalisasi akan tetap menjadi arus yang bersifat irreversible (tak dapat ditolak). Perubahan demi perubahan pun terjadi di depan mata kita, baik yang dinilai positif maupun negatif.
Cepatnya perkembangan arus teknologi telah membuat sejumlah kejutan yang spektakuler bagi kehidupan manusia di dunia dalam segala aspek, tidak terkecuali aspek pendidikan. Hadirnya berbagai jenis komputer dan internet di dunia pendidikan memberikan tawaran dan pilihan dalam rangka menunjang proses pembelajaran, namun juga memberikan berbagai tantangan terutama bagi pendidik.
Selain itu, sejumlah teknologi gadget seperti tablet, smartphone, netbook, apalagi PC bukanlah menjadi suatu hal yang baru bagi anak (baca: peserta didik) yang masih duduk di bangku sekolah. Berbagai gadgetdengan beragam fasilitas yang dimiliki peserta didik tidak hanya dapat digunakan untuk berkomunikasi dan bermain game saja. Akan tetapi peserta didik juga bisa menemukan apa pun dalam gadget tersebut, cukup dengan sekali sentuh atau klik. Mereka juga bisa menemukan konten-konten yang terlarang di usia mereka.
Sehubungan dengan fakta tersebut, maka pendidik (baca: guru) harus lebih mengukuhkan perannya. Mengingat guru merupakan sosok yang sangat dihormati lantaran memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Sebab, guru adalah faktor utama untuk mewujudkan pendidikan maju. Oleh karena itu guru yang dianggap sebagai profesi mulia serta sosok yang dapat digugu dan ditiru, harus dapat menguasai gadget sepenuhnya guna mengimbangi dan mengontrol muridnya dalam menggunakan gadget. Sebab, bagaimanapun guru memiliki peran sangat urgen dalam aspek pendidikan serta sosok terdepan untuk memberikan keteladanan. Sukses tidaknya para siswa dalam belajar di sekolah, tergantung pada guru. Oleh sebab itu, tuntutan kehadiran sosok guru yang profesional tidak pernah surut karena guru hadir sebagai subjek yang paling diandalkan dalam proses pembelajaran.
Untuk itu, tidak bisa dipungkiri ada tantangan tersendiri tampil sebagai guru di era serba digital seperti zaman sekarang ini. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, saat ini gadgetsering di gunakan untuk hal-hal yang tidak sesuai, waktu dan tempat pun juga tidak sesuai dalam penggunaannya terutama dalam masalah pendidikan, banyak dari para siswa bahkan mahasiswa yang menggunakan gadget untuk melakukan hal yang tidak semestinya, misalnya untuk mencontek, mendengarkan musik ketika pelajaran berlangsung, nonton video yang dilarang dan lain sebagainya. Ketika ujian digelar, soal-soal yang diajukan pun akan menjadi tidak bermakna jika peserta didik membuka gadget mereka untuk mencari jawaban. Jadi, sesulit apapun soal ujian yang diberikan oleh guru, tentu akan mampu dijawab dengan sangat mudah oleh peserta didik hanya dengan searching google dalam beberapa detik.
Tidak hanya sampai disitu, ketika guru sedang mengajar, berapa banyak jumlah siswa yang berada di dalam kelas, namun pikiran mereka terbang entah kemana. Mereka malah sibuk menulis memberi komentar di facebook, twitter, dan media sosial (sosmed) lainnya. Selain itu, banyak siswa yang juga ngrumpi via BBM, WeChat, Linedan WhatsApp. Sementara  guru yang tengah asyik berceramah di depan kelas, sama sekali tidak menimbulkan minat di mata siswa. Sangat ironis.
Nah, melihat realita di atas, inilah tantangan terbesar guru saat ini akibat melesatnya perkembangan dunia teknologi informatika dan alat elektronik seperti gadget. Guru harus mampu meningkatkan keprofesionalitasnya dalam mengajar dan mendidik siswa. Guru juga harus bisa memanfaatkan gadget untuk mengoptimalkan pembelajaran di kelas. Memang sebuah tugas yang tidak mudah bagi seorang guru. Sebab, guru dituntut untuk tidak gaptek(gagap teknologi). Guru juga tidak boleh tertinggal dengan siswanya, karena suka atau tidak suka, siswa sekarang tumbuh besar dan berkembang di era digital, sehingga para guru pun harus berusaha seoptimal mungkin untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Untuk itu, sebagai guru profesional harus mampu menciptakan pembelajaran kreatif, inovatif, dan asyik sebisa mungkin jauh dari kesan membosankan. Nah, sistem mengajar yang tepat untuk siswa di era digital adalah dengan mengajak mereka belajar dalam dunianya, yaitu dunia digital. Guru harus dapat bisa mendampingi murid dalam memanfaatkan gadget dengan bijak agar pemanfaatannya tidak disalahgunakan.
Dengan menggunakan gadget, guru dapat mengembangkan pembelajaran yang kreatif. Guru bisa memanfaatkan gadget untuk sarana dan prasarana pembelajaran, seperti penggunaan laptop dan internet untuk mencari materi ajar tambahan seperti video, gambar, artikel, dan kegiatan ilmiah sederhana yang dapat dipraktekkan dalam menunjang materi pembelajaran. Selain itu, guru juga bisa memanfaatkan gadget dan internet sebagai sarana untuk memberikan tugas serta pengumpulannya, misal dengan menggunakan jejaring sosial seperti fb, twitter, blog, maupun yang lain. Dengan begitu, siswa bisa mengerjakan tugas dengan baik dengan tetap nyaman menggunakan gadgetnya. Melalui pembelajaran dengan sarana gadget inilah, diharapkan guru tidak dapat tergantikan oleh Google, yahoo maupun searching machine lainnya.

Masih ada banyak sekali yang bisa guru lakukan untuk memanfaatkan teknologi terbaru dan tercanggih seperti gadget. Hal yang terpenting adalah guru harus memiliki kemauan untuk mencoba dan melakukannya serta memanfaatkannya. Dengan kemampuan guru dalam membangun rasa senang belajar terhadap siswa, diharapkan dapat memunculkan daya pikir kritis dan jiwa kreatif siswanya. Hal yang sangat urgen adalah para guru juga harus tetap mendampingi dan mengarahkan muridnya agar bisa memanfaatkan teknologi secara sehat demi masa depan mereka yang lebih baik.Wallahu a’la bimurodihi.
*Mahasiswi Peraih Beasiswa Bidikmisi UIN Walisongo Semarang
Sumber: Koran Muria, 3 Maret 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply