Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Kritisi Kenakalan Remaja

Oleh: Afifah*
Saat ini, kenakalan remaja menjadi salah satu problem utama yang dihadapi masyarakat. Problem yang kini telah menjadi penyakit ganas di tengah masyarakat ini sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Hal tersebut terbukti dengan adanya berbagai kasus  kenakalan remaja yang telah meresahkan masyarakat. Misalnya, di media massa, baik elektronik maupun cetak dengan leluasa menampilkan hal-hal yang dapat mengakibatkan rusaknya akhlak generasi muda.
 Sejatinya, kenakalan remaja semacam itu terjadi pada diri mereka, karena pada masa itu remaja sedang berada dalam masa transisi yaitu, anak menuju dewasa. Masa ini dianggap rawan. Oleh karena itu, kebanyakan orang tua gelisah dan khawatir terhadap anaknya yang menginjak usia remaja.
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum yang dilakukan oleh remaja, perilaku tersebut akan merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Kualitas pendidikan di Indonesia bisa saja naik turun berbagai konflik yang melingkarinya, hanya membuat permasalahan semakin runyam. Pelajar bermasalah seolah tidak pernah surut. Berbagai tingkahnya yang mengkhawatirkan bahkan mengancam keamanan diri sendiri, dan lingkungan sekitar.
 Dalam kenakalan remaja salah satunya ada yang namanya tawuran. Tawuran  sudah menjadi bagian budaya bangsa Indonesia. Sehingga jika mendengar kata tawuran, masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi. Hampir setiap minggu berita tawuran menghiasi media massa. Fenomena ini sudah tidak asing lagi  dalam kehidupan masa kini, justru hal ini menjadi sangat memprihatinkan, karena perkembangan remaja masa kini  lebih banyak jatuh pada jalan pergaulan yang salah.
Pergaulan berasal dari kata “gaul”. Pergaulan maksudnya kehidupan sehari-hari dalam persahabatan ataupun masyarakat. Gaul menurut dimensi remaja-remaja adalah ikut dalam trend, mode, dan hal-hal yang berhubungan dengan glamor hidup. Solidaritas dan kesetiakawanan sering dijadikan landasan untuk terjun ke dunia hura-hura. Dengan setia “kawan”. Tapi, jika ditinjau lebih dalam “gaul”  tidak akan menimbulkan banyak dampak negatif, jika standar nilai yang dipakai untuk mengidentifikasi gaul dengan memakai kebudayaan yang penuh dengan tata krama dan kesopanan.
Pengaruh Psikologis
Yang merupakan transisi yaitu dari anak menuju dewasa, memiliki potensi besar untuk melakukan hal-hal menyimpang dari kondisi. Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal diantaranya pengaruh teman sepermainan, pendidikan, penggunaan waktu keseharian, menggunakan uang dengan tidak baik, perilaku seksual. Pengaruh teman misalnya, teman sepermainan yang di situ temannya suka mabuk-mabukkan, narkoba. Pengaruh teman  ini memang cukup besar resikonya.
 Pengaruh teman bisa diumpamakan  sebagai  segumpal darah yang busuk. Oleh karena itu, orang tua para remaja harus berhati-hati dan bijaksana dalam mengawasi pergaulan anaknya.  Jangan memberi peluang pada anak untuk bergaul dengan teman yang tidak benar. Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orang tua kepada anak, seharusnya orang tua memberikan pengarahan yang baik kepada anak.
Remaja adalah masa yang rentan dalam mencari jati diri. Sebab itulah, remaja kelompok sosial yang sangat munyukai untuk menjalani hubungan sosial dengan orang lain. Semakin populer seorang remaja, maka makin tinggi nilainya dimata remaja yang lain. Namun, terkadang proses interaksi ini kurang begitu memberikan dampak positif, malah banyak yang memberi dampak negatif. Kenakalan remaja dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala potologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial sehingga terjadi tindakan kriminal.
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat dengan perkembangan fisik, psikis dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalu, trauma terhadap kondisi lingkungannya, terdesaknya kondisi ekonomi, merasa rendah diri. Kenakalan remaja terjadi karena beberapa faktor, bisa disebabkan diri sendiri atau dari orang lain.
Remaja adalah anak yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut seorang sudah melampaui masa kanak-kanak,  namun masih belum matang untuk dapat dikatakan dewasa. Jenis-jenis kenakalan remaja antara lain pencurian, tawuran, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, tawuran antar pelajar, minum-minuman air keras, salah bergaul, kasus asusila, pemerkosaan bahkan pembunuhan.
Tawuran antar pelajar maupun tawuran antar remaja semakin menjadi semenjak terciptanya geng-geng. Perilaku itu selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat. Perbuatan itu sangat mengganggu ketenangan masyarakat. namun, mereka merasa bangga jika masyarakat takut dengan mereka. Dari aspek fisik, tawuran dapat menyebabkan kematian dan luka berat bagi para siswa. Sedangkan aspek mentalnya, tawuran dapat menyebabkan trauma pada para siswa yang menjadi korban, merusak mental para generasi muda dan menurunkan kualitas pendidikan. Hal ini semua bisa terjadi karena, kurangnya kasih sayang orang tua, frustasi diri,  kurangnya pengawasan dari orang tua, kurangnya dasar-dasar agama, kebebasan yang berlebihan, kurangnya etika, masalah yang dipendam.
Masa remaja sebagai periode yang sarat dengan perubahan dan retan munculnya masalah kenakalan ramaja. Untuk itu perlu adanya perhatian khusus dengan pemahaman  baik serta penanganan yang tepat terhadap remaja. Ini merupakan faktor penting bagi keberhasilan remaja dikehidupan selanjutnya, mengingat masa ini merupakan masa yang paling menentukan. Selain itu perlu adanya kerjasama dari remaja itu sendiri, orang tua, guru dan pihak-pihak lain yang terkait agar perkembangan remaja dibidang pendidikan dan bidang-bidang lainnya dapat dilalui secara terarah, sehat dan bahagia. Wallahu a’lam.
 *Sekretaris Umum Komunitas Huffaadh  Intelektual Organik (KOHIO) Fakultas Ushuluddin  UIN Walisongo Semarang.
Sumber: Kompas Islam 

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply