Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Gerakan Hormati Gurumu

Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar & Menengah (Menbuddikdasmen) Anies Baswedan kembali memiliki gagasan segar untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Setelah sukses dengan “Gerakan Indonesia Mengajar”-nya, kali ini Anies menggagas “Gerakan Hormati Gurumu”. Sebuah gerakan yang tujuannya tidak lain adalah untuk mengembalikan marwah guru. Teringat lagu anak-anak yang dulu sering penulis nyanyikan ketika duduk di bangku sekolah. Penggalan lagu berjudul Pergi Belajar (Ibu Soed: 1943) itu berbunyi: “Hormati Gurumu, Sayangi Teman. Itulah Tandanya Kau Murid Budiman”.
Gerakan penghormatan terhadap guru memang harus dilakukan dari segala lini dan tak hanya sekadar seremoni atau pun dalam bentuk materi.Bulan November ini, pemerintah berencana akan me-launching Gerakan Hormati Gurumu tersebut. (Kompas, 12/11/2014). Mengapa guru harus dihormati? Jawabannya tidak lain adalah karena guru lah yang mengajarkan ilmu kepada anak-anak kita. Tidak hanya mengajarkan, mereka juga lah yang mendidik generasi penerus negeri ini dengan tulus dan ikhlas. Guru juga selalu melayani (serve) dan berkorban (sacrifice) untuk kebaikan dan keutamaan si murid. Itu sebabnya oleh pemerintah zaman Orde Baru mereka mendapatkan julukan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”.
Oleh sebab itu, penghormatan terhadap guru adalah suatu keniscayaan yang harus disadari oleh bangsa Indonesia. Lalu siapakah yang disebut guru itu? Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ketika ditanya oleh seorang sahabatnya tentang siapakah orang yang ia sebut guru itu? Ali menjawab bahwa orang yang disebut sebagai guru adalah orang yang mengajarkan satu huruf kepadanya. Dalam istilah Jawa, guru adalah kependekan dari dua kata; “digugu dan ditiru” artinya ia harus selalu bisa dipercaya dan bisa menjadi contoh. Dalam konteks ini, berarti guru tidak sekadar mengajarkan, lebih jauh lagi, ia harus menjadi uswah (contoh) yang baik, sesuai norma sosial, agama, budaya dan sebagainya.
Masih dalam Bahasa Jawa, ada ungkapan “Ojo ngelawan nang guru, ndak kualat (jangan melawan kepada guru, supaya tidak terkutuk)”. Dari situ, seakan-akan juga mengisyaratkan bahwa guru tidak hanya sekedar mengajar, memberi contoh ataupun memerintah baik, tetapi juga bagaimana seharusnya kita bersikap, cara memuliakan, dan menempatkan seorang guru. Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, karena tugas guru yang begitu mulia dan mendapat penghormatan yang tinggi, Sayyidina Ali bin Abi Tholib bahkan menyatakan, “Aku adalah budak seseorang yang mengajarkanku walau satu huruf, jika ia berkehendak menjualku, melepaskan, dan tetap menjadikanku budak (itu adalah hak mereka).
Oleh sebab itu, dalam kitab tersebut dijelaskan bagaimana cara menghormati guru, di antaranya; tidak boleh berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat yang diduduki gurunya, bila dihadapan gurunya tidak memulai pembicaraan kecuali atas izinnya. Murid mestilah mendapatkan ridha dari gurunya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda: “Pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu dengan ketenangan dan sikap hormat serta tawadhu’lah kepada orang yang mengajarimu.” Islam memang sangat menganjurkan agar penganutnya menghormati para ulama dan guru-guru mereka.
Mereka hanya ingin anak didiknya sukses tanpa pernah mengharapkan imbalan dan balas jasa dari mereka. Tak jarang mereka rela berbuat apapun agar muridnya sukses. Hal ini lah sering penulis rasakan, sehingga sikap hormat dan patuh terhadap guru selalu penulis tanamkan pada diri dalam-dalam. Tentu saja yang penulis jabarkan di atas hanyalah dalam lingkup kecil bagaimana seharusnya guru diperlakukan sebagai orang yang mulia.
Lebih dari itu Anies Baswedan, yang merupakan mantan rektor Universitas Paramadina Jakarta menginginkan agar bentuk penghormatan guru dilakukan dalam banyak hal yang melibatkan masyarakat dalam cakupan besar. Salah satu contohnya, menurut Anis, adalah mengupayakan program diskon toko buku bagi guru hingga prioritas boarding naik ke pesawat terbang. Dalam konteks ini, menghormati guru tidak hanya sebatas menaikkan revenue, diupacarakan. Namun, lebih dari itu harus gerakan seluruh rakyat. Dengan membudayakan penghormatan terhadap guru mulai dari hal-hal kecil itu, diyakini suasana belajar pun akan berubah.
Posisi guru yang begitu sentral dalam dunia pendidikan harus menjadi spirit pemerintah dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia. Gerakan Hormati Gurumu yang akan dilauncing oleh pemerintah bulan ini merupakan upaya revolusi mental yang sedari awal kampanye menjadi slogan ciri khas pasangan Jokowi-JK. Seluruh rakyat Indonesia harus merasa memiliki tanggung jawab memuliakan guru dengan cara yang terhormat. Selama ini, penghargaan terhadap guru selalu terbatas pada seremonial belaka, sehingga tidak menghayati subtansi yang dimaksudkan.
Setiap rezim pemerintahan memiliki cara berbeda untuk memuliakan posisi guru sebagai pionir kemajuan bangsa. Jika dulu pada saat rezim Soeharto, pemerintah memberikan julukan guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, maka berbeda pada pula orde setelah reformasi. Tentu masih ingat dengan program sertifikasi guru yang dicanangkan oleh pemerintahan SBY. Sampai saat ini, program itu masih dipertahankan, dan justru harus ditingkatkan, sehingga subtansi yang dimaksud bisa dipahami oleh masyarakat, terutama oleh guru itu sendiri. Oleh sebab itu, kini giliran rezim Jokowi-JK berkerja. Anies Baswedan yang sudah ditunjuk oleh Jokowi sebagai Menbuddikdasmen untuk membantu kinerja Kabinet Kerja, harus mampu bekerja dengan maksimal.
Gerakan Hormati Gurumu adalah bentuk program pemerintah yang sejatinya jangan sampai berhenti pada sebatas program saja. Agenda revolusi mental yang digaungkan oleh Jokowi-JK harus menjadi spirit tersendiri, supaya program ini mampu merubah mind set dan paradigma masyarakat agar lebih cerdas dalam memposisikan guru dalam kehidupannya. Yang menjadi kekhawatiran adalah bagaimana kualitas guru itu. Jika nantinya para guru dalam posisi yang dihormati, maka kualitas mereka pun harus istimewa. Keistimewaan itulah yang harus mulai dibangun, baik secara individu oleh para guru maupun lewat pemerintah dengan program implementasinya. Dengan begitu, tidak akan ada hal yang kontraproduktif yang akan menurunkan spirit Gerakan Hormati Gurumu tersebut. Semoga! Wallahu a’lam bi al-shawaab.
Koran Wawasan, 17 Nov 2014
http://epaper.koranwawasan.com/wawasan-sabtu-31-januari-2015/

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply