Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Belajar Idealis dari Fatin Shidqia Lubis

Oleh: Mokhamad Abdul Aziz
Direktur School of Gender dan Political Islam di Monash Institue.
 Ajang pencarian bakat paling bergensi, X Faktor Indonesia (XFI) pertama, telah usai. Adalah Fatin Shidqia Lubis yang berhasil memenangi ajang yang diselenggarakan oleh Stasiun RCTI tersebut. Gadis kelahiran Jakarta, 30 Juli 1996 tersebut berhasil mengalahkan Novita Dewi di final X Factor Indonesia pada Jumat, 24 Mei 2013 di Jakarta. Kemenangan Fatin ini bisa dibilang mengejutkan. Sebab, siswa kelas dua SMA 97 Jakarta itu dikenal sebagai seroang yang pemalu dan sangat lugu. Bahkan, ia mengaku jika XFI merupakan pangung yang pertama kali diikutinya; sekaligus pertama kalinya dia tampil menyanyi di depan umum.
Hal ini sesuai dengan prediksi ahli psychocybernetics, Suhu Naga. Pada Jumat siang sebelum grand final digelar, ia mengatakan bahwa yang berpeluang besar akan menjadi juara X Factor Indonesia untuk kali pertama adalah Fatin Shidqia Lubis. "Dari eskalasi energi yang saya rasakan, peluang Fatin untuk menjuarai X Factor memang sangat besar. Auranya terlihat sekali, sangat mencolok pada Fatin," katanya. (Kompas, 24/5/2013).
Kemenangan Fatin memang terasa isteimewa. Apalagi yang dikalahkan di grand final adalah Novita Dewi, seorang penyanyi yang matang dengan teknik vokal dan penampilan yang menwawan. Bahkan, menurut Regina "Idol" Ivanova, kualitas Novita berada jauh di atas Fatin. Namun, ini adalah X Faxtor. Siapapun yang mempunyai faktor X, maka dialah yang akan menjadi pemenang. Dan Fatin lah yang memang memiliki faktor X tersebut. Akan tetapi, bukan tidak berarti yang lain tidak mempunyai faktor X. Yang mempunyai faktor X paling kuat dan istimewa lah yang akan menang.
Dalam konteks ini, faktor X itu bisa kita lihat dari suara yang dimiliki Fatin. Fatin mempunyai suara yang memang sangat langka ditemukan di belahan dunia manapun, terlebih Indonesia. Bahkan, ketika pertama kali tampil di X Factor Indonesia, semua orang dibuat terkejut dengan suara emasnya itu. Tepatnya, pada saat ia menyanyikan lagunya Bruno Mars yang berjudul Grenade. Mulai dari dunia nyata hingga dunia maya, semuanya geger membicarakan gadis belia yang selalu mengenakan jilbab itu.
Di dunia nyata, Lagu Grenade menjadi sangat populer di Indonesia. Anak-anak kecil yang tinggal di desa-desa pun banyak yang kemudian hafal dengan lagu itu. Hebatnya, mereka menganggap lagu tersebut adalah lagu Fatin, buka lagu Bruno Mars. Artinya, jika lagu itu dinyanyikan, maka yang terbayangkan dalam pikiran mereka adalah sosok Fatin yang luar biasa. Hal ini memang tidak berlebihan, karena Fatin memang mempunyai kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain.
Bahkan, salah seorang juri dan komentator X Factor Indonesia yang juga merupakan musisi terkenal Indonesia, Ahmad Dhani Prasetyo (42) mengatakan bahwa Fatin menyanyikan lagu Grenade tersebut lebih bagus dari penyanyi aslinya. Ini adalah bukti faktor X yang memang dimiliki Fatin sejak pertama tampil di ajang tersebut.
Tak hanya di kehidupan nyata, dunia maya pun ramai-ramai memuji penampilan Fatin ketika itu. Melalui akun Facebook, Twitter, dan akun jejaring sosial lainnya banyak sekali muncul komentar-komentar yang berisi pujian dan dukungan terhadap Fatin. Salah satunya adalah George Levendis, salah satu sahabat Simon Cowell (pendiri ajang X-Factor) melalui akun Facebook dan Twitter-nya @HellasGL menulis: ”Fatin making an impact on the XF in Indonesia!”. Bahkan, banyak para pendukung Fatin yang kemudian membuat blog untuk menggalang dukungan terhadap Fatin, diantaranya adalah fatinlovers.wordpress.com dan fatinistic.blogspot.com.
Tentu saja tidak hanya pujian yang mengarah pada diri Fatin. Ada juga orang-orang yang menghina gadis yang baru berumur 16 tahun tersebut. Terlebih ketika ia lupa lirik pada saat menyanyikan lagu "Everything at Once" pada X Factor Indonesia episode 10 Mei 2013. Namun, semua hinaan, cercaan dan komentar negatif yang diarahkan kepada Fatin, ternyata tidak menyurutkan dirinya untuk terus belajat dan berjuang, hingga ia berhasil menjuarai ajang X Fator tersebut.
Faktor X lain yang dimiliki Fatin adalah ia tetap mempertahankan jilbabnya hingga grand final. Padahal, dunia hiburan, terlebih perempuan, pada umumnya  menampilkan kultur pop Barat yang seksi dan kebarat-baratan. Namun, Fatin dengan idealitasnya mampu dan berani mempertahankan jilbabnya, sehingga ia tidak kehilangan jati dirinya sebagai muslimah. Tentu saja ini berkontradiksi dengan pandangan kebanyakan orang—termasuk para ilmuwan—yang sering menganggap bahwa Islam bertolak belakang dengan dunia Barat. Dengan kata lain, selama ini memang banyak yang mempertentangkan antara dunia Barat dan Timur (baca: Islam).
Dalam konteks ini, Fatin telah membuktikan bahwa seorang muslimah pun bisa “meniru” tradisi orang Barat, tetapi sama sekali tidak kehilangan sentuhan keislamannya. Inilah yang sepatutnya dicontoh oleh para perempuan yang ingin melebarkan sayapya di dunia hiburan. Karena pada faktanya, banyak perempuan yang melepas atribut keislamannya ketika ia ingin melejit karir entertainmennya, misalnya dengan melepas jilbab dan pakain tertutupnya.
Inilah yang kemudia membuat Prof. Dr. M Bambang Pranowo, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Rektor Universitas Mathla’ul Anwar Banten, menulis di Koran Sindo, 27 Mei 2013, “Seorang wanita berjilbab dan dididik agama secara ketat oleh keluarganya ternyata mampu mengembangkan inklusivitas kultural Islam sehingga menembus sekat-sekat yang memisahkan budaya Islam dan Barat”. Inilah yang perlu kita contoh. Fatin yang polos, lugu, dan pemalu ternyata mampu menujukkan sebuah prestasi yang luar biasa, tanpa harus kehilangan sikap idealis dan ideologisnya. Semoga Fatin tetap konsisten dengan yang dilakukan tersebut.

Dengan demikian, ketika seseorang ingin sukses dan mengubah hidupnya menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain, maka yang harus dilakukan adalah tetap teguh pada pendirian yang memang sudah dianggap benar. Dengan begitu, perubahan yang dingingkan tidak akan berdampak buruk kepada dirinya di kemudian hari. Wallahu a’lam bi al-shawab.

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply