Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Revolusi Mental di Bulan Ramadan

Oleh: Mokhamad Abdul Aziz

Pilpres 2014 telah usai digelar. Hasil hitung cepatpun telah diketuhui publik, meski ada perbedaan beberapa lembaga survei dalam menyatakan siapa yang menjadi pemenang pada pilpres kali ini. Delapan lembaga survei menyebutkan pasangan capres-cawapres Jokowi-JK unggul atas pasangan Prabowo-Hatta. Lembaga survei yang dimaksud adalah Radio Republik Indonesia (RRI), Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Cyrus Network, Litbang Kompas, Indikator Politik Indonesia, Populi Center, dan Poltracking. Sedangkan, empat lembaga survei lain memperlihatkan hasil sebaliknya, yakni kemenangan Prabowo-Hatta. Lembaga survei yang menyatakan Prabowo-Hatta menang adalah Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Jaringan Suara Indonesia (JSI), Lembaga Survei Nasional (LSN), dan Indonesia Research Centre (IRC). (Radar bangka, 10 Juli 2014).
Namun, terlepas dari itu, yang terpenting saat ini adalah bagaimana Indonesia bisa berbenah. Lupakan sejenak soal pilpres, pada bulan yang penuh berkah ini, mari gunakan untuk berfikir masa depan.  Dalam konteks ini, penulis tertarik untuk membahas “Revolusi Mental” yang digagas oleh calon presiden (capres) Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu. Jelas bahwa mentalitas rakyat Indonesia harus direvolusi, supaya tidak ada lagi yang memiliki mental inferior, atau meminjam istilah Mohammad Nasih, agar bangsa ini tidak bermental budak.
Dalam penyampaian visi-misi pada Debat Capres Jilid II bertema “Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial”, pada 15 Juni 2014 lalu, Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo mengatakan, “Pembangunan ekonomi menurut kami, ke depan, yang pertama dilakukan adalah pembangunan manusianya terlebih dahulu. Lewat apa, lewat pendidikan. Pendidikan yang seperti apa, revolusi mental harus kita lakukan... ”. Harus diakui bahwa faktor utama yang menyebabkan Indonesia tertinggal dari bangsa lain adalah persoalan mentalitas yang belum beres. Sebab, maju, mundur, atau staganasi suatu negara sangat ditentukan oleh mentalitas warga negaranya, terutama para pemimpinnya.
Oleh karena itu, ke depan yang penting adalah bagaimana membuat masyarakat Indonesia cerdas. Untuk itu tidak ada jalan lain, kecuali lewat pendidikan yang mencerdaskan. Selama ini, kecerdasan seseorang selalu diukur dengan bagaimana seseorangmenjawab soalan-soalan ujian, meski belakangan sudah mulai banyak ditentang. Pandangan ini sejalan dengan gagasan Howard Gardner,seorang ahli psikologi perkembangan. Gardner membagi kecerdasan menjadi sembilan; logikal matematik, spatial (visual ruang), linguistik, kinestetik, muzik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, eksistensialisme (spiritual).
Mulai dari Kecerdasan Spiritual
Dalam tulisan ini, penulis akan membahas kecerdasan terakhir yang digagas Gardner. Meski existential intelligence (kecerdasan yang berkaitan dengan keadaan kerohanian manusia) ia tambahkanbelakangan (1999), tetapi pada faktanya kecerdasan ini sangat menentukan keberhasilan seseorang. Dalam konteks Indonesia saat ini, ketiadaan spiritual intelligence telah membuat orang-orang yang dianggap “cerdas”—secara intelektual, emosional, dan sebagainya—tidak mampu bertahan dalam tugas dan kesuksesannya. Sebut saja, mereka yang telah meraih gelar profesor (gelar tertinggi dalam sistem pendidikan di Indonesia), tetapi ikut terlibat dalam kasus korupsi, sehingga berakhir di penjara, atau mereka yang dianggap memiliki kecerdasan emosional di atas rata-rata, sehingga dikagumi banyak orang, tetapi berakhir dengan nasib yang sama. Tentu inilah yang perlu dipikirkan. Revolusi mental, sebagaimana yang digagas Jokowi, harus benar-benar diperjuangkan. Mari dimulai dari mental spiritual masing-masing.
Bagi umat Islam, pada bulan suci Ramadan ini,seorang hamba berupaya untuk mengenal alam spiritual yang agung. Kemampuan menembus alam imateri ini, sungguh akan mengantarkan kepada kemenangan besar yang luar biasa (fawz al-adzîm). Banyak ungkapan dalam al-Qur`an, dengan keras mengecam karakteristik hewani yang ada pada manusia yang kini telah begitu dominan membutakan manusia. Karakter ini pun telah membuat mereka mengabaikan nilai-nilai kesucian spiritual dirinya. Karena itulah, mata mereka tak jelas melihat segala kebaikan yang kasat pandang. Sehingga, tidak bisa membedakan mana yang baik-benar dan mana yang buruk-salah.
Ketidak-mampuan memandang secara spiritual inilah yang melahirkan berbagai sifat dan sikap bodoh, yang dikenal sebagai jahiliyyah. Maka tidak heran jika dewasa ini muncul istilah “jahiliyah modern”, untuk menyebut zaman yang sepertinya kembali lagi kepada zaman pra-Islam, zaman jahiliyah. Masyarakat Arab pra-Islam sebenarnya memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang luar biasa, tetapi mereka tidak memiliki spiritual intelligence atau spiritualitas mereka berada pada kesesatan, sehingga berdampak pada perilaku bodoh yang mereka lakukan. Sejalan dengan datangnya Nabi Muhammad Saw. sebagai pemberi kabar gembira, al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan. Dengan maksud untuk merekonstruksi cara berpikir mereka yang sesat. Sehinga, berjalan pada kehidupan yang cerdas dan bermartabat.
Ramadan ini harusnya menjadi momen penting untuk merevolusi mental spiritualitas rakyat Indonesia, agar ke depan menjadi manusia yang mengerti arti kehidupan. Tanpa kecerdasan spiritual, bangsa ini tidak akan pernah bisa mencapai cita-cita yang dirumuskan oleh para founding fathers. Inilah yang akan membedakan bahwa “revolusi mental” ala Jokowi berbeda dengan revolusi menurut paham komunis. Jelas, dalam Pancasila sila pertama dituliskan bahwa ketuhanan yang maha Esa. Mengapa dalam Pancasila harus dicantumkan sila ketuhanan? Atau bahkan mengapa sila ketuhanan dicatut pada sila pertama? Secara filosofis, sangat bisa dipahami bahwa spiritualitas merupakan hal mendasar yang pertama dan utama sebagai fitrah manusia dalam berkehidupan.

Melupakan spiritualitas sama halnya dengan merevolusi bangsa ini kepada kehancuran. Ramadan ini adalah waktu yang tepat untuk memulai revolusi mental. Keberhasilan seseorang dengan puasanya untuk menyingkap tabir pandangan kasatnya menuju pandangan spiritual, merupakan kemenangan. Dan kemenangan besar inilah yang lazim dirayakan kaum Muslimin di penghujung Ramadan. Rakyat Indonesia, terlebih umat Islam bersyukur, Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 yang diselenggarakan pada 9 Juli lalu bertepatan dengan hari Ramadan 1435 H. Sehingga, di bulan yang penuh berkah dan rahmat ini, pilpres diharapkan akan melahirkan pemimpin yang memiliki mentalitas sehat dan cerdas. Mari memulai dari mentalitas spiritual. Hilangkan fanatisme buta yang muncul selama ini. Wallahu a’lam bi al-shawaab.
Radar Bangka, 12 Juli 2014

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply