Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Wujudkan Indonesia Maju

Oleh: Chilman Syarif*
Tahun 2015 sudah mulai kita lewati. Dengan bertambahnya tahun, masih banyak problemtatika belum juga terselesaikan. Bahkan, bisa dikatakan juga semakin parah. Apabila masalahnya hanya diabaikan begitu saja, tidak ada langkah real untuk menuntaskannya, maka masalah di negeri ini akan semakin menumpuk. Idealnya, masalah tidak akan terselesaikan dengan baik. Implikasinnya, harapan untuk menjadi negara maju semakin terhambat.
Apalagi di tahun 2015, Indonesia akan menghadapi hadirnya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dimana persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin meningkat menjelang pemberlakuan pasar bebas Asean pada akhir 2015 mendatang. Hal ini menandakan terdapat sebuah kompetisi dalam persaingan tenaga kerja akan semakin ketat.
Apabila tidak dipersiapkan dari sekarang, maka negara Indonesia akan semakin tertinggal dengan negara ASEAN yang lain. MEA merupakan tantangan besar bagi Negara Indonesia. Apabila Indonesia tidak mampu bersaing, maka daftar masalah di Indonesia semakin bertambah. Tegasnya, Indonesia semakin terpuruk.
Maka dari itu, untuk menyambut kedatangan MEA, Indonesia harus lebih banyak berintrospeksi terhadapbanyaknya problematika yang muncul di bangsa ini. Karena dengan berintrospeksi, kita bisa semakin tau apa masalah-masalah yang sedang menimpa. Ketika sudah menemukan permasalahan, langkah selanjutnya adalah bersama-sama untuk memperbaiki diri bangsa.
Jangan sampai ketika MEA datang, tidak membawa berkah, akan tetapi musibah yang terjadi. Musibah ini akan menjadi masalah baru bagi Indonesia. Padahal masalah di negara Indonesia masih banyak yang belum bisa diselesaikan.
Lihat saja praktik korupsi hingga sekarang masih menjadi kebiasaan para pejabat. Dua tahun terakhir praktek korupsi kembali marak di Indonesia. Menurut Indonesia Corruption Watch (ICW), angka korupsi pada tahun 2013-2014 cenderung meningkat dibandingkan tahun 2010-2012.
Korupsi merupakan salah satu penghambat kemajuan bangsa ini. Apabila tingkat korupsi semakin tinggi, maka uang negara akan habis hanya karena dimakan oleh koruptor. Padahal, uang negara merupakan sumber utama untuk melakukan sebuah pembangunan.
Tak hanya itu, SDM (Sumber Daya Manusia) di negeri ini masih sangat lemah kualitasnya, padahal ini merupakan salah satu syarat utama untuk dapat bersaing menghadapi MEA. Contoh realnya Kita bisa melihat disuatu perusahaan pada jabatan yang tinggi mayoritas banyak dikuasai oleh orang asing, bukan dari WNI sendiri. Sedangkan dari WNI sendiri rata- rata di perusahaan itu hanyalah sebagai buruh/karyawan biasa. Hal itu menunjukkan bahwa kualitas SDM di negeri ini masih lemah.
Indonesia berbenah
Untuk menjadikan Indonesia menjadi negara lebih maju, maka langkah- langkah yang harus dilakukan adalah pemerintah harus tegas dalam menegakkan hukum. Terutama dalam menangani masalah korupsi, agar angka korupsi di negara ini bisa terminimalisir.
Selain itu pemerintah juga berperan aktif terkait masalah sistem pendidikan. Pemerintah berusaha untuk menyosialisasikan betapa pentingnya sebuah pendidikan, terutama di daerah pedesaan,. Pendidikan merupakan sebuah kunci untuk menjadikan SDM semakin berkualitas. Ketika Indonesia sudah mempunyai banyak SDM yang berkualitas, maka otomatis WNI lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Tegasnya, pengangguran akan semakin berkurang.

Disamping itu, selain dari peran pemerintah, sebagai WNI juga harus bekerja mandiri, tidak hanya menggantungkan pemerintah. Karena sekarang kunci kesuksesan dan kemajuan bangsa Indonesia itu berada ditangan WNI tersebut. Maka akan menjadi sia-sia, apabila pemerintah sudah memberikan pelayanan yang bagus, akan tetapi rakyatnya hanya diam dan tidak mau berusaha untuk maju. Dalam konteks ini, hubungan antara peran pemerintah dan rakyat itu harus berjalan dengan sinergis.Wallahu a’lamu bi al-Shawab.
*Peneliti Muda Mahasiswa Fakultas Syari’ah UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Jateng Pos, 15 Maret 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply