Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Wanita Berkualitas Untuk Kualitas Negara

Oleh: Mohamad Izzat Alwi*
Peran wanita sangat besar dalam kehidupan, baik di lingkup keluarga maupun lingkup Negara. Tanpanya, kehidupan tidak akan bergulir sebagaimana mestinya. Sebab, dia sebagai produsen sekaligus pelestari generasi. Semisal di dunia hanya dihuni oleh laki-laki, kehidupan di dunia mungkin sudah sirna ribuan abad yang lalu. Oleh karena itu, wanita tidak bisa hanya dipandang sebelah mata.
Seringkali wanita hanya dipandang sebagai manusia yang lemah. Padahal, dibalik sifatnya yang lemah lembut terdapat jiwa “super hero”. Bagaimana tidak, di rahim Ibu lah kita mulai berevolusi. Mulai hanya segelintir sel telur hingga menjadi janin dengan bentuk sempurna. Di sana juga kita pertama kali mendapat pendidikan.
Proses pendidikan sudah dimulai sejak ditiupkannya ruh ke dalam janin. Sebab, mulai saat itu sang janin sudah peka terhadap rangsangan-rangsangan dari Ibu. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan Ibunya. Oleh sebab itu, Ibu harus memberi rangsangan-rangsangan positif untuk perkembangan sang anak.
Syauqi mengatakan, “Ibu ibarat madrasah, jika kau persiapkan maka sesungguhnya anda sedang menyiapkan bangsa (besar) yang wangi keringatnya”. Ini berarti, ibu ialah pemberi pendidikan pertama bagi sang anak, sekaligus berkontribusi besar  terhadap Negara.
Karena perannya sangat besar untuk dua hal tadi. Menjadi Ibu harus mempunyai kualitas intelektual yang memadai. Sekaligus paham betul dalam beragama. Sebab, nantinya akan berpengaruh pada buah hati. Sehingga, kualitas intelektual dan akhlak buah hati setidaknya sama seperti Ibunya.
Oleh sebab di atas, sebelum menjadi Ibu hendaknya menempuh pendidikan terlebih dahulu, baik umum maupun agama. Yaitu dengan mengenyam pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sarjana. Dan juga harus pernah “mengaji” di pondok.
Dua hal tadi sangat dibutuhkan dan harus ada keduanya. Sebab, keduanya saling melengkapi. Apabila salah satunya tidak ada, maka sama saja ketiadaan keduanya.
Namun, pada zaman sekarang keadaan perempuan Indonesia sangat berbanding terbalik dengan keadaan di atas. Pasalnya banyak mereka menganggap pendidikan hanya sebagai formalitas. Sekolah 12 tahun hanya dijadikan fase yang harus dilewati.
Semisal mereka sudah kuliah, hingga saatnya memakai toga dan mendapat ijazah. Itu hanya dijadikan syarat dan modal untuk mencari suami kaya. Ironis, jika keadaannya seperti itu, terus bagaimana nasib sang anak pasca mereka menikah.
Hal tersebut sedikit lebih baik apabila dibanding dengan para perempuan yang hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Pasalnya, meski sekarang bukan lagi zamannya R.A. Kartini, tetapi justru mereka banyak yang cuek terhadap pendidikan.
Akibatnya, banyak perempuan yang hanya nikah, tanpa memerhatikan nasib kedepannya. Mereka hanya modal nekat tanpa disertai kualitas keilmuan. Sehingga nantinya akan berdampak buruk pada sang anak.
Tidak hanya itu, tidak sedikit wanita berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Berdasarkan surve LSM Mitra Sehati mencatat jumlah PSK di Kota Bekasi mencapai 2.500 orang. Sungguh ironis, Itu baru dalam lingkup kota, belum sekala Nasional.
Apabila kita bercermin terhadap keadaan di atas. Maka Negara tinggal menunggu kehancurannya. Pasalnya, nasib Negara bergantung kepada generasinya. Jika generasinya berkualitas, maka Negara juga akan berkualitas (maju), dan sebaliknya.
Dan kita ketahui, kualitas sang anak sangat dipengaruhi oleh Ibunya. Jika sang Ibu mempunyai kualitas baik, maka anaknya juga akan mempunyai kualitas yang baik, dan sebaliknya. Sehingga, maju atau tidaknya Negara bergantung kepada baik buruknya wanitanya (Ibu).
Dalam hal ini, pendidikan di rumah merupakan fondasi dari seluruh pendidikan. Dari sinilah penentuan kualitas generasi muda mulai terbentuk. Apakah menjadi pribadi yang baik, atau sebaliknya?
Oleh sebab itu, menjadi calon Ibu harus berpikir dua kali terlebih dahulu. Apakah sudah mempunyai modal atau belum? Sebab, menjadi Ibu tidak hanya siap untuk memenuhi pekerjaan rumah saja. Melainkan siap untuk mendidik sang buah hati yang nantinya akan menduduki kursi kepemimpinan Negara.
Pemerintah juga harus memerhatikan serta memberikan solusi untuk persoalan ini. Dengan cara membuat kebijakan khusus buat wanita. Yaitu, setiap perempuan harus menyandang minimal gelar sarjana (S1) sebelum menikah. Agar nantinya semua Ibu paham cara mendidik anak yang baik.
Di dalam buku karangan Ummu Aulia yang berjudul “Allah pun Terkagum-kagum pada Wanita” juga menjelaskan bahwa, wanita adalah makhluk berjuta pesona. Dia hidup di masa lalu, masa kini, dan masa depan, sedangkan laki-laki hanya hidup di masa kini. Ini berarti, peran wanita tiga kali lipat lebih besar dibanding peran laki-laki.
Ini menegaskan bahwa, pemerintah harus berdedikasi lebih terhadap keadaan perempuan di Indonesia. Iya, bagaimana cara melahirkan kembali Kartini-kartini masa lalu pada zaman ini. Kartini yang bisa membawa Indonesia menuju kemenangan kompetisi dunia. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 *Mahasiswa pendidikan Matematika UIN Walisongo Semarang dan Sekum Pondok Pesantren Harun al-Rasyid
Dimuat di Koran Muria Senin, 16 Maret 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply