Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Peran Guru Dalam Menjawab Problematika Remaja

Oleh: Irfan Sona*
Perkelahian antar pelajar atau yang biasa disebut tauran semakin hari, semakin merajalela. Aksi yang tidak manusiawi ini kerap terjadi dikalangan pelajar. Tidak hanya pelajar di tingkat SMU saja, akan tetapi tidak jarang siswa SMP bahkan perguruan tinggi sering menlakukan hal yang sama. Ironisnya lagi, pertikaian ini terjadi di kota-kota besar yang mayoritas memiliki sekolah-sekolah ternama. Seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surbaya, dan masih banyak lagi kota besar lainnya yang sering mengabarkan berita tentang tauran pelajar ini.
Di Jakarta misalnya, aksi tauran antar pelajar ini masih begitu hangat ditelinga kita. Akibat dari aksi tersebut ada siswa yang harus merelakan nyawanya. Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir,  adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, yaitu berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
Dengan adanya dampak-dampak negatif yang timbul akibat perkelahian antar pelajar, telah memberikan pertanyaan besar pada masyarkat. Yaitu tentang siapa yang akan disalahkan dalam kasus yang merengut nyawa manusia ini. Keluar, sekolah, lingkungan, ataukah akibat pergaulan bebas yang sering merasuk dunia remaja. Keempat elemen inilah yang selalu menjadi sorotan utama ketika adanya kasus yang menimpa para remaja khususnya pelajar setingkat SMP dan SMU. Sering dituduhkan, bahwa pemicu perkelahian pelajar ini adalah akibat adanya rasa dendam antar pelajar. Disamping itu, faktor ekonomi keluarka sering memicu tindakan anarkis siswa ini. Kenapa tidak? Dengan faktor ekonomi yang lemah, menyebabkan banyak para siswa yang nekat melakukan aksi-aksi yang merugikan orang lain. Seperti mencuri, merampok, dan melakukan aksi-aksi teror yang menakutkan serta membuat gelisah orang lain.
Dengan adanya perbuatan semacam itu, jelas menimbulkan marah si korban. Jika ada korban yang tidak terima dengan perbuatan yang di berikan padanya, maka jelas hal itu akan menimbulkan dendam yang teramat sangat. Selain faktor ekonomi keluarga, tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah. Selain kedua hal diatas, sebenarnya ada hal penting yang tidak kalah hebatnya dalam memicu perkelahian antar pelajar. Adapun faktor tersebut adalah faktor Psikologis. Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja. Kenakalan remaja inilah yang sering memicu perkelahian antara pelajar. Jika mula-mula pertikaian hanya terjadi antara individu dengan individu, maka tidak menutup kemungkinan pertikaian ini akan terjadi pada antar kelompok. Karena biasanya, individu yang mempunyai masalah dengan lawannya tidak akan terima jika dia belum bisa membalaskan dendamnya. Kemudia, dengan dendam yang membara membuat dia masuk kedalam kelompoknya dan mengadukan hal ihwal tersebut. Sebagai suatu kelompok atau geng sudah barang tentu tidak terima dengan perlakuan kelompo lain terhadap anggotanya. Hal inilah yang nantinya akan memicu perkelahian secara besar-besaran bahkan sampai pada tingkat antar sekolah.
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya empat faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar. Adapun faktor-faktor tersebut adalah, pertama;  faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.
Kedua,faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan baik itu yang terjadi antar orang tua, maupun yang terhadi antara orang tua dengan anak. Hal ini jelas memberikan dampak negatif terhadap psikologi anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya ketika remaja, akan menjadikan seorang anak sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
Faktor ketiga adalah Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya baru setelah itu hasil yang akan dicapai. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dan lain sebagainya, akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan walau dalam bentuk berbeda dalam mendidik siswanya.
Dan faktor terakhir adalah Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari tempat tinggal remaja, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk misalnya mengonsumsi narkoba. Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.
Dengan adanya faktor-faktor diatas, lantas siapakah yang akan disalahkan dalam kasus yang menimpa remaja. Bisa dipastikan semua elemen dalam kehidupan ini akan menjadi tersangka terhadap kasus tauran remaja. Karena semua lini kehidupan berpengaruh penting terhadapkehidupan dan pribadi anak. Dengan demikian, langkah konkrit yang harus dilakukan adalah melakukan pengawasan secara pasti terhadap perkembangan kehidupan anak. Disamping itu, penempatan anak pada lingkungan yang benar harus menjadi pilihan utama keluarga agar anaknya tidak salah dalam bertempat tinggal.
*Pengajar di Yayasan Monash Institute Pondok Tahfidh Darul Iman wa Taqwa (PDIT) Ngaliyan Semarang

 Sumber: Jateng Pos, 1 Maret 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply