Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Optimalisasi Penanggulangan Banjir

Oleh: Siti Fatihatus Sa’adah

Sejak dulu, manusia telah menghadapi bencana alam yang berulang kali melenyapkan populasi mereka. Pada zaman dahulu, manusia sangat rentan akan dampak bencana alam dikarenakan adanya keyakinan bahwa bencana alam adalah hukuman atau bentuk kemarahan dewa-dewa. Seluruh peradaban kuno menghubungkan lingkungan tempat tinggal mereka dengan dewa atau tuhan yang dianggap dapat memberikan kemakmuran atau kehancuran.

Indonesia merupakan negara yang sangat rawan dengan bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung. Banjir merupakan peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai.

Di banyak daerah yang gersang di dunia, tanahnya mempunyai daya serapan air yang buruk, atau jumlah curah hujan melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air. Ketika hujan turun, yang kadang terjadi adalah banjir secara tiba-tiba yang diakibatkan terisinya saluran air kering dengan air. Banjir semacam ini disebut banjir bandang.

Banjir menjadi hal biasa buat masyarakat Indonesia. Hampir tiap tahun Indonesia selalu mendapatkan masalah banjir dan sampai saat ini pun belum ada solusi yang dapat menanggulangi permasalahan ini. Ketidaksadaran akan bahayanya banjir dan penyebab-penyebab terjadinya banjir menjadi penyebab kenapa banjir tersebut setiap tahun melanda Indonesia. Khususnya di wilayah Jakarta Utara, karena kondisi di sana memang didominasi wilayah yang berada di bawah permukaan laut dan sisanya berada dekat perairan. Sehingga menjelang musim penghujan diperlukan persiapan matang untuk mengantisipasi banjir.

Banjir dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang ekonomi, sosialdan lingkungan. Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas sosial, dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka, sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunitas, sementara kerusakan lingkungan dapat mencakup hancurnya hutan yang melindungi daratan. Manusia dianggap tidak berdaya pada bencana alam, bahkan sejak awal peradabannya. Ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemendarurat menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan, struktural dan korban jiwa. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan manusia untuk mencegah dan menghindari bencana serta daya tahannya.

Selain meluapnya air secara berlebihan, badai  juga dapat menyebabkan banjir melalui beberapa cara, di antaranya melalui ombak besar yang tingginya bisa mencapai 8 meter. Mata badai mempunyai tekanan yang sangat rendah, jadi ketinggian laut dapat naik beberapa meter pada mata guntur. Banjir pesisir seperti ini sering terjadi di Bangladesh. Gempa bumi dasar laut maupun letusan pulau gunung berapi yang membentuk kawah (seperti Thera atau Krakatau) dapat memicu terjadinya gelombang besar yang disebut tsunami yang menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai.

Pada tahun 2004, bencana banjir melanda provinsi Aceh (NAD) dan Sumatera Utara yang memakan banyak korban. Kedua provinsi tersebut memaksa diadakannya upaya cepat untuk mendidik masyarakat agar dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi bencana alam. Namun, upaya yang dilaksanakan tidak efektif karena persiapan menghadapi bencana alam belum menjadi mata pelajaran pokok dalam kurikulum di Indonesia. Materi-materi yang berhubungan dengan bencana alam juga tidak banyak.

Menurut Nicholas Stern, pengarang "The Stern Report" (2006) mengenai perubahan iklim: Negara kepulauan sangat rawan terhadap peningkatan air laut dan badai. Indonesia termasuk negara yang amat rawan. Oleh sebab itu, diperlukan cara-cara efektif untuk mengatasi masalah banjir. Diantara cara-caranya adalah dengan membuat saluran air yang baik, buanglah sampah pada tempatnya, rajin membersihkan saluran air, mendirikan bangunan/konstruksi pencegah banjir, menanam pohon atau tanaman di area sekitar rumah, melestarikan hutan, membuat lubang Biopori, membuat sumur serapan, proyek pendalaman sungai dan Penggunaan Paving Stone untuk Jalan.

Walaupun perkembangan manajemen bencana alam di Indonesia meningkat pesat sejak bencana banjir tahun 2004, berbagai bencana alam yang terjadi selanjutnya menunjukkan diperlukannya perbaikan yang lebih signifikan. Daerah-daerah yang rentan bencana alam, khususnya bencana banjir, seperti Aceh dan di wilayah Jakarta Utara, yaitu Cilincing dan Penjaringan yang masih lemah dalam aplikasi sistem peringatan dini, kewaspadaan resiko bencana banjir dan kecakapan manajemen bencana.

Menurut kebijakan pemerintah Indonesia, para pejabat daerah dan provinsi diharuskan berada di garis depan dalam manajemen bencana alam. Sementara BNP (Badan Nasional Penanggulangan) dan tentara dapat membantu pada saat yang dibutuhkan. Namun, kebijakan tersebut belum menciptakan perubahan yang sistematis. Selain itu, kurangnya sumber daya menjadi salah satu kelemahan dalam manajemen bencana.

Mitigasi atau penanggulangan bencana alam merupakan upaya berkelanjutan untuk mengurangi dampak bencana terhadap manusia. Perbedaan tingkat bencana alam yang merusak dapat diatasi dengan menggerakkan mitigasi yang berbeda-beda sesuai dengan sifat masing-masing bencana alam. Persiapan menghadapi bencana alam sebelum terdeteksinya tanda-tanda bencana dilakukan dengan tujuan agar bisa memfasilitasi pemakaian sumber daya alam yang tersedia.

Pada wilayah-wilayah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (“hazard”), memiliki ketentraman atau kerawanan (“vulnerability”), bencana alam khususnya banjir tidak memberi dampak yang luas jika masyarakat setempat memiliki ketahanan terhadap bencana (“disaster resilience”). Konsep ketahanan bencana merupakan kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah dan menangani tantangan-tantangan serius dari bencana alam. Sistem ini memperkuat daerah rawan bencana yang memiliki jumlah penduduk yang besar.


*Alumnus Pondok Pesantren Tarbiyatul Anam Kajen Pati

Sumber: Jateng Pos, 20 Februari 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply