Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Indonesia dan Pemimpin "Kepompong"

Muhammad Ali Fuadi*

Ibarat seorang sopir, pemimpin bertugas mengendalikan kendaraannya dan memastikan seluruh penumpangnya berada dalam keadaan aman dan tentram. Apabila terdapat permasalahan pada diri seorang sopir—semisal ngantuk, tidak konsentrasi ketika mengemudikan kendaraannya—penumpang akan menjadi taruhannya. Begitu pula pemimpin, apabila ketika dalam mengendalikan kekuasaan tidak benar, salah menentukan kebijakan, mudah diintervensi orang lain bahkan yang dari bangsa asing, maka seluruh rakyatnya tentu akan sengsara dan menderita.
Oleh karena pentingnya kekuasaan, maka pemimpin dituntut untuk tidak seperti ‘kepompong’. Pemimpin ‘kepompong’ merupakan pemimpin yang cenderung tidak acuh terhadap kebijakan yang diterapkan, tidak mengetahui implikasi kebijakan yang diterapkan, tidak peka terhadap tuntutan dan keinginan rakyat, mudah dikendalikan atau diintervensi pihak yang tidak bertanggung jawab, serta tidak cepat dalam menentukan segala kebijakan. Pemimpin kategori demikian tentu akan menjadi boomerang bagi suatu negaranya.
Diakui maupun tidak, pemimpin demikian telah marak di bumi pertiwi ini. Tidak sedikit pemimpin kita—baik di level daerah maupun nasional—hanya menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, sedangkan rakyat ditelantarkan. Dalam konteks ini, tentu kita semua sepakat bahwa kebijakan sangat berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupan. Apabila kebijakan itu tepat dan mantap, rakyat akan merasakan kesejahteraan. Dan sebaliknya, apabila kebijakan yang diterapkan salah, rakyat akan menderita. Nah, kebijakan salah inilah yang mengakibatkan rakyat seperti ditelantarkan oleh pemimpinnya. Padahal pemimpin itu pengayom bagi rakyat.
Meneladai Politik Nabi
Dalam situasi dan kondisi seperti ini, yang dibutuhkan Indonesia adalah pemimpin handal, yang mampu melakukan segala hal dengan otoritas yang dimilikinya, sehingga bangsa ini setidaknya mampu mendapatkan sebuah awal dari kemajuan bangsa; bebas dari praktik kebohongan. Dalam rangka menjadikan bangsa ini menjadi negeri berdikari, yang dibutuhkan adalah pemimpin yang memiliki kualitas paripurna. Dan siapa yang harus dicontoh? Dalam hemat penulis, kualitas pemimpin paripurna yang ada sepanjang zaman adalah sosok Nabi Muhammad. Jadi, beliaulah yang patut dan harus dijadikan contoh bagi setiap pemimpin.
Kita semua tentu tahu bahwa Nabi Muhammad Saw telah berhasil menjadikan peradaban unggul di dunia internasional. Sehingga, Michael H. Hart dalam bukunya berjudul “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah”, menempatkan Nabi Muhammad pada posisi pertama. Hal itu tidak aneh dan mengherankan, karena Muhammad adalah salah satu sosok yang fenomenal dibandingkan dengan tokoh yang lain. Beliau mampu meraih kesuksesan luar biasa, baik dalam lingkup duniawi maupun agama. Beliau merupakan pemimpin sekaligus nabi yang berhasil meninggikan peradaban di dunia. Lantas kualitas apa yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin, agar dapat mempertinggi derajat bangsa?
Pertama, seorang pemimpin harus memiliki finansial tinggi yang kemudian dikorbankan dalam masa perjuangan memimpin umat. Tak dapat dimungkiri, Nabi Muhammad adalah seorang yang memiliki finansial dengan jumlah besar. Namun, beliau tidak menjadikan kekuasaan yang dimiliki tersebut untuk meraup kepentingan pribadi. Justru, beliau merelakan semua hartanya untuk kepentingan umat. Sehingga dalam masa akhir hayatnya pun, harta kekayaannya habis dan itu terbukti dengan baju perangnya yang masih tergadai pada orang lain.
Kedua, seorang pemimpin harus memiliki kualitas keilmuan dan kemahiran berpolitik. Muhammad adalah seorang nabi sekaligus pemimpin negara. Beliau berhasil menjadikan kota Madinah—yang dulu dikenal Yatsrib—menjadi bangsa yang beradab, meskipun di dalamnya terdapat berbagai perbedaan suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA). Muhammad mampu menengahi pluralitas di kota Madinah tersebut dengan kepiawaian politiknya, sehingga membawa kota Madinah mencapai kemajuan yang signifikan, dan tidak terjadi konflik di dalamnya.
Ketiga, pemimpin harus memiliki sifat yang dimiliki para nabi, yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Ya, pemimpin harus bersikap shiddiq (jujur), agar tidak terjadi kedzaliman di dalamnya. Pemimpin harus amanah (dapat dipercaya atau tidak berkhianat). Pemimpin juga harus tabligh (menyampaikan data dan fakta yang sebenarnya, tidak dimanipulasi). Selanjutnya pemimpin harus fathanah, yakni harus cerdas agar tidak mudah dibodohi oleh orang lain. Empat kualitas sifat nabi mutlak dimiliki oleh para pemimpin kita agar negara ini mencapai kemajuan, tidak ada fitnah dan kedzaliman di dalamnya. Sebab, karakter pemimpin di Indonesia saat ini sangat jauh dari sifat nabi.
Memprioritaskan Kepentingan Rakyat
Sederhananya, kemajuan negara dapat diukur dengan apabila kepentingan rakyat telah berada di atas segala-galanya. Itulah salah satu fungsi politik. Di dalam buku “What is Politics? The Activity and Its Study” karya Adrian Leftwich  juga dijelaskan hal serupa bahwa politik merupakan jantung dari semua kegiatan sosial yang bersifat kolektif, publik maupun privat, serta formal maupun informal. Di dalamnya diatur segala hal yang berkaitan dengan interaksi sosial, yang kemudian melahirkan sebuah kekuasaan yang digunakan untuk pendistribusian serta pengambilan keputusan sebagai agenda utama pemerintahan. Pada intinya, politik itu digunakan untuk mengutamakan kepentingan rakyat.
Senada dengan hal itu, Hasan al-Banna mengatakan bahwa politik adalah seni untuk menyejaterakan rakyat. Politik adalah suatu hal yang memikirkan persoalan-persoalan internal maupun eksternal umat. Persoalan internal adalah yang mencakup mengurusi persoalan pemerintahan, merinci hak dan kewajibannya, menjelaskan fungsinya, melakukan pegawasan terhadap para penguasa dengan mematuhinya apabila melakukan kebaikan, dan mengkritisinya apabila melakukan tindakan yang keliru.
Sedangkan mengenai persoalan eksternal sebagaimana yang diwacanakan Hasan al-Banna, yaitu memelihara kebebasan bangsa dan kemerdekaannya, membebaskan dari setiap penindasan, menghilangkan intervensi dari pihak-pihak asing dalam segala urusan. Dan yang terpenting, mampu menghantarkan suatu negara mencapai tujuan yang dikehendaki sehingga dapat menempatkan kedudukan bangsa menjadi bangsa yang membanggakan di tengah-tengah bangsa lain.

Demi mencapai kemajuan suatu negara, seorang pemimpin harus mengedepankan kepentingan rakyat dan tidak bersikap seperti ‘kepompong’. Sebab, selama ini masih banyak pemimpin yang justru mengedepankan kepentingan pribadinya dan kelompoknya, serta hanya diam membisu laiknya ‘kepompong’. Dalam konteks ini, pemimpin harus meneladani kamahiran politik Nabi dalam setiap perjuangannya, khususnya empat sifat yang dimiliki nabi (shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah), agar tidak mudah dikendalikan kepentingan politik pihak lain. Wallahu a’lam bi al-shawab.
*Peneliti di LPM IDEA Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang; Peneliti Muda di Monash Institute Semarang
Sumber: Suara Karya, 4 Februari 2015


About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply