Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » » Menghafalkan Alquran itu Mudah dan Melejitkan Kecerdasan

Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan Fisip UMJ, Wakil Direktur Bidang Akademik STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prwairanegara Jakarta

أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ
Orang yang suka (membaca, menghafalkan, memahami, dan mengamalkan) al-Qur’an  adalah keluarga Allah dan orang terkhususNya. (HR. al-Nasa’i, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

Pendahuluan
Tidak ada satu pun buku yang bisa dihafalkan di luar sebagaimana Alquran. Tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak yang masih balita pun mampu menghafalkannya dengan sangat mengagumkan. Para ilmuan besar yang namanya kini termasyhur, karena capaian prestasi keilmuan di berbagai bidang, rata-rata telah menghafalkan Alquran sejak usia belia. Sebut saja Ibnu Sina yang di dunia Barat disebut dengan nama Avecina dan dikenal karena kapasitasnya di bidang kedokteran, telah hafal Alquran pada usia lima tahun. Ibnu Khaldun yang dikenal sebagai bapak sosiologi dan juga diakui kepakarannya di bidang ekonomi, sejarah, antropologi, serta disiplin-disipilin yang lain, telah hafal Alquran pada usia tujuh tahun. Tidak terhitung ulama’ Islam generasi klasik yang namanya kini tetap menjadi rujukan, rata-rata telah hafal al-Qur’an pada usia tujuh tahun sampai belasan tahun sebelum mereka baligh.
Di masa sekarang prestasi dalam menghafalkan Alquran juga bisa disaksikan di banyak tempat. Salah satu anak yang dipandang memperoleh capaian monumental pada abad ini adalah Thabathabai dari Iran yang telah hafal Alquran pada usia sangat belia dan pada usia delapan tahun telah mendapatkan gelar doktor kehormatan dari sebuah universitas di Inggris. Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia, di daerah-daerah pedesaan dengan fasilitas pendidikan yang masih sangat minim, tidak sedikit anak-anak yang mampu menghafalkan Alquran. Dan yang menghafalkan Alquran bukan saja orang-orang yang dikenal memiliki tingkat kecerdasan intelektual tinggi, melainkan mereka yang berkecerdasan intelektual biasa-biasa saja.
Semua fakta tersebut di atas menunjukkan bahwa Alquran adalah sebuah buku yang sangat mudah dihafalkan. Dan menghafalkannya bisa melejitkan kecerdasan multi yang ada pada penghafalnya. Karena itu, tidak ada alasan bagi umat Islam, terutama kalangan aktivis Islam untuk tidak menghafalkannya. Apalagi jika kalangan ini tidak mampu membaca Alquran dengan baik, tentu adalah sesuatu yang sangat memalukan dan memilukan.

Signifikansi Menghafal Alquran
Alquran terdiri atas 6236 ayat. Tidak sedikit di antara ayat-ayat tersebut memiliki kaitan yang sangat erat. Karena memiliki kaitan yang sangat erat, maka pemahaman yang benar terhadap Alquran mutlak memerlukan pengaitan di antara ayat-ayat tersebut. Dengan kata lain, terdapat interkoneksi antara satu ayat dengan ayat yang lain. Kekeliruan pemahaman terhadap ayat akan terjadi apabila sebuah ayat tidak dipahami dengan berdasarkan pemahaman terhadap ayat yang lain yang berkaitan.
Dengan hafal keseluruhan Aquran, tentu dengan memahami maknanya dengan baik, maka untuk memahaminya secara tepat menjadi lebih mudah. Sebab, hafalan terhadap keseluruhan ayat dalam Alquran akan memudahkan untuk memahami interkoneksi ayat-ayat yang seringkali letaknya berjauhan. Misalnya utuk memahami kata dhalim (dhulm) dalam surat al-An’am:
الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al An’am: 82).
Ayat ini awalnya menimbulkan pertanyaan di kalangan sahabat Nabi. Sebab, dalam pandangan mereka, tidak ada satu pun di antara mereka yang tidak pernah berbuat dhalim dalam konteks sebagaimana mereka pahami sebelumnya. Dan dalam konteks pemahaman mereka itu, tentu semua mereka tidak akan memperoleh janji Alquran dalam ayat tersebut sebagai orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mendapatkan petunjuk. Sederhananya mereka semua akan masuk neraka. Dan itu menyebabkan para sahabat bersedih hati. Nabi kemudian memberikan jawaban bahwa yang dimaksud dhalim dalam ayat tersebut bukanlah dhalim sebagaimana pemahaman mereka sebelumnya, melainkan kedhaliman sebagaimana dalam ayat lain yang posisinya cukup jauh dalam susunan mushhaf Alquran.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang besar”.” (Luqman: 13).
Surat al-An’am terdapat di juz 7 sedangkan Luqman terdapat di juz 21. Tentu saja, pemahaman tentang adanya interkoneksi antara kedua ayat ini hanya mungkin jika keduanya dihafal dengan baik di luar kepala. Dan inilah sesungguhnya kunci kegemilangan para ulama’ yang memiliki karya-karya besar di masa lalu. Sebab, mereka hafal dengan sangat baik Alquran, memahami maknanya, dan ditopang dengan hafal dengan baik hadits-hadits Nabi Muhammad. Dengan demikian, segala permasalahan bisa dijawab secara baik dan tuntas dengan menggunakan panduan keduanya. Kecemerlangan mereka itulah yang membuat umat Islam saat ini dapat membaca hadits-hadits Nabi Muhammad yang memiliki validitas sangat meyakinkan, seperti shahih Bukhari dan Muslim.

Mudahnya Menghafalkan Alquran
Salah satu karakteristik bahasa Arab adalah mudah dihafalkan. Bahkan dengan turunan kata atau padanannya yang sangat banyak sekalipun bisa diingat dengan sangat mudah dan baik. Misalnya saja, kata yang dalam bahasa Indonesia menunjuk kepada makna unta, dalam bahasa Arab memiliki 800 padanan. Di antara kata tersebut digunakan dalam Alquran sebagai berikut:
مَا جَعَلَ ٱللَّهُ مِنۢ بَحِيرَةٍۢ وَلَا سَآئِبَةٍۢ وَلَا وَصِيلَةٍۢ وَلَا حَامٍۢ ۙ وَلَٰكِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah, dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (al-Maidah: 103).[1]
Mengenai fakta bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling mudah dihafalkan telah diakui seluruh pakar bahasa. Dan bukti kemudahan bahasa Arab untuk dihafalkan adalah banyaknya orang, bahkan orang-orang badui di padang gurun pasir Arabia mampu menghafalkan seluruh sya’ir yang pernah mereka buat. Padahal jumlahnya amat sangat banyak, karena mereka juga menghafalkan sya’ir-sya’ir yang dianggap paling baik dari generasi-generasi sebelumnya. Karena mudah dihafal tersebut, maka pernah terdapat sebuah fase sejarah masyarakat Arab yang menjadikan hafalan sebagai ukuran kecerdasan. Orang yang cerdas adalah orang yang menghafalkan apa saja di luar kepala dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Muncul paradigma bahwa untuk apa ditulis jika sudah bisa dihafalkan di luar kepala? Cara berpikir inilah yang menyebabkan budaya tulis menulis kurang begitu berkembang pada saat itu.
Kemudahan untuk dihafal itulah yang menjadi salah satu hikmah Aquran diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga akan lebih mudah dijaga otentisitasnya. Dengan mudah dihafal oleh banyak orang, maka Alquran akan sulit untuk dipalsukan. Di samping karena secara karakteristik bahasa yang digunakan adalah mudah dihafalkan, juga karena janji Allah bahwa Alquran telah dimudahkanNya untuk dihafalkan oleh siapa pun yang mau melakukannya. Allah menawarkan kepada siapa pun yang mau melakukannya dengan mengulang-ulang tawaran dan sekaligus janji tersebut sebanyak 4 kali secara persis sama.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan Kami telah mudahkan Alquran untuk diingat (dihafalkan). Maka adakah orang yang (mau) menghafalkannya? (al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40)
 Faktor lain yang membuat Alquran mudah untuk dihafalkan adalah membaca Alquran secara berulang-ulang tidak menimbulkan kebosanan. Surat al-Fatihah bisa dikatakan sebagai sebuah surat yang paling banyak dibaca. Tetapi bisa dikatakan pula bahwa belum pernah ada ungkapan yang menyatakan kebosanan untuk membacanya atau merasa terusik karena mendengarnya dibaca dan diperdengarkan. Bahkan jika dibaca dengan tajwid, orang yang tidak mengerti maknanya sekalipun akan merasakan ketenteraman dan kesejukan. Sebab, Alquran melahirkan keindahan yang bisa menghanyutkan hati dan perasaan.
Bagi yang memahami bahasa Arab, membaca kembali Alquran berarti kembali mendapatkan pemahaman yang baru yang mendukung pemahaman sebelumnya. Pemahaman-pemahaman yang muncul dari pengulangan bacaan itu laksana berlian yang memiliki banyak sisi. Alquran ibarat berlian dengan banyak sisi yang semua sisinya menghasilkan pantulan yang beragam, tetapi saling bersesuaian, sehingga menghasilkan keindahan tingkat tinggi.  Inilah yang menyebabkan menghafalkan Alquran bisa melejitkan kecerdasan.
Karena menarik untuk dibaca secara berulang-ulang, maka kemudian menjadi sangat mudah untuk dihafalkan. Sebab, aktivitas menghafal pada dasarnya adalah aktivitas untuk mengulang kembali bacaan sesering mungkin. Siapa pun bisa melakukannya, termasuk anak kecil. Sebab, otak anak kecil ibarat busa yang menyerap cairan dengan sangat mudah. Dengan memori yang masih kosong, anak-anak akan lebih mudah memasukkan apa pun materi yang bisa diingat ke dalam otak mereka.  Apalagi orang dewasa, apabila memiliki motivasi tinggi, untuk menghafalkannya akan menjadi jauh lebih mudah.
Panduan Teknis Menghafalkan Alquran
Aktivitas menghafal pada dasarnya adalah ketekunan untuk mengulang kembali bacaan. Karena itu, metode dasar dalam menghafalkan Alquran adalah selalu mengulang kembali bacaan. Untuk memudahkan dalam menghafalkan Alquran, secara praktis, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
Pertama, gunakan satu mushhaf dengan satu wajah/bentuk. Maksudnya, jangan menggunakan mushhaf dengan muatan ayat dalam satu halaman yang berbeda-beda. Untuk memudahkan proses hafalan, para penghafal Alquran biasanya menggunakan mushhaf “Alquran sudut”, yaitu mushhaf Alquran yang ayat-ayatnya sudah tersusun sedemikian rupa, sehingga selalu berakhir di akhir halaman. Penggunaan mushhaf yang sama, akan lebih memudahkan proses pemindaian teks Alquran dari mushhaf ke dalam memori. Bahkan teksnya bisa dibayangkan dengan jelas pada saat mengucapkannya.
Kedua, sebelum proses menghafalkan, bacaan Alquran harus sudah sesuai dengan tajwid. Ini adalah hal mutlak. Sebab, menghafalkan Alquran, sementara bacaan belum benar, maka itu sama dengan mengabadikan kekeliruan dalam membaca Alquran. Sedangkan perbedaan titik pada sebuah huruf bisa menyebabkan perbedaan makna yang sangat signifikan. Bahkan artinya bisa berkebalikan. Karena itu, sebelum menghafalkan Alquran, proses tahsîn (membaguskan bacaan) harus dilakukan dengan cara menggurukannya kepada guru yang bisa memastikan kualitas bacaan sesuai dengan standar bacaan yang benar.
Ketiga, mengulang-ulang dalam membaca satu halaman mushhaf. Agar bacaan lancar, baca minimal sebanyak 20 kali. Setelah benar-benar lancar, lalu hafalkan per ayat mulai dari atas. Hafalkan satu ayat sampai benar-benar bisa diingat di luar kepala dan dilafalkan dengan baik tanpa harus memikirkannya. Lalu lanjutkan dengan menghafalkan ayat selanjutnya. Sambungkan antara ayat yang pertama dengan ayat berikutnya. Demikian terus sampai pada ayat paling akhir pada satu halaman. Jika sudah hafal, satu halaman tersebut dibaca berulang-ulang sambil melakukan aktivitas lain apa pun yang memungkinkan, di antaranya sambil jalan-jalan.
Keempat, istiqamah atau konsisten dalam menghafal. Proses menghafalkan Alquran secara tuntas hanya akan bisa dilakukan apabila dilakukan secara konsisten. Dan apabila bisa mengalokasikan waktu selama 10.000 jam dalam waktu selama maksimal tiga tahun dengan membagi waktu secara sama perhari, insya Allah pasti akan hafal Alquran. Tebal Alquran adalah 604 halaman. Jika dikurangi dengan kalimat basmalah yang diulang berkali-kali, bisa dikatakan hanya 600 halaman. Kalkulasi sederhana, jika konsisten dalam melakukan aktivitas menghafal, maka yang terjadi adalah sebagai berikut:
Perhari
Kalkulasi
Waktu Yang Diperlukan
1 ayat
6236 : 365
17 tahun
½ halaman
600 : 182,5
3,3 tahun
1 halaman
600 : 365
1,65 tahun (600 hari)
2 halaman
600 : 730
0,82 tahun (300 hari)
3 halaman
600 : 1.095
0,54 tahun (200 hari)
4 halaman
600 : 1.460
0,41 tahun (150 hari)

Konsistensi dalam menghafalkan Alquran sangatlah penting. Konsistensi akan semakin memudahkan dalam menghafalkan Alquran, karena banyak sekali kata dalam Alquran yang diulang-ulang. Banyaknya kata yang diulang berarti sama dengan ada banyak kata yang telah bisa diucapkan secara otomatis. Kemudahan dalam mengucapkan ini akan menambah semangat dalam menjalankan aktivitas menghafal.
Kelima, mengulang kembali ayat yang telah dihafal setiap hari. Para penghafal Alquran biasanya mengulang bacaan Alquran perhari 5-6 juz.  Bagi para penghafal Alquran, membaca 6 juz tidaklah masalah. Sebab, untuk membacanya cukup dengan waktu kira-kira 2 jam saja. Mereka yang telah mahir, 1 halaman Alquran bisa dibaca dalam waktu hanya 1 menit, bahkan kurang dari itu. Analognya sangat sederhana, seperti para pembalap motor atau mobil. Yang belum mahir mengendarai kendaraan, maka walaupun mengendarai dengan pelan-pelan, peluang jatuhnya besar. Namun, jika sudah mahir, maka mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi pun akan tetap selamat. Karena itu, membaca Alquran dengan kecepatan tinggi pun tidak ada masalah. Dengan kemahiran dalam membaca Alquran, waktu yang diperlukan untuk membaca 1 juz hanya 20 menit saja. Waktu 2 jam dalam sehari biasanya hanya habis untuk menonton tontonan yang tidak perlu, seperti sinetron-sinetron dengan cerita bohong. Jika untuk membaca 1 juz diperlukan waktu 30 menit, maka dalam sehari diperlukan hanya 3 jam saja. Dalam era teknologi sekarang ini, bacaan bisa dilakukan sambil ber-apa saja dengan menggunakan bantuan recorder. Jika tidak istiqamah melakukan penjagaan hafalan, maka capaian hafalan berpotensi besar mengalami degradasi.  Wallahu a’lam bi al-shawab.
[1] Bahirah adalah unta betina yang telah melahirkan anak lima kali, dan anaknya yang kelima berjenis kelamin betina. Menurut adat Jahiliah, unta tersebut harus dibelah telinganya, kemudian dilepaskan, dan tidak boleh lagi dipakai untuk kendaraan dan tidak boleh diperah susunya.
Saibah adalah unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja, tidak boleh dipakai untuk kendaraan atau membawa beban, dan tidak boleh diambil bulunya, tidak boleh pula diperah susunya, kecuali untuk tamu. Menurut adat jahiliah, ini dilakukan untuk menunaikan nadzar. Apabila seseorang di antara orang-orang Arab Jahiliah akan melakukan pekerjaan berat, atau perjalanan yang jauh, maka mereka bernadzar, bahwa ia akan menjadikan untanya sebagai saibah, jika pekerjaan tersebut berhasil dengan baik, atau perjalanan itu dapat dijalani dengan selamat.
Wasilah adalah kambing atau unta betina yang lahir kembar dengan saudaranya yang jantan. Menurut adat jahiliah, apabila seekor kambing atau unta betina melahirkan anak kembar jantan kemudian betina, maka anaknya yang betina disebut “wasilah”, tidak boleh disembelih dan tidak boleh dipersembahkan kepada berhala.
Ham adalah unta jantan yang telah menghamili unta betina sebanyak sepuluh kali. Menurut adat jahiliah, unta tersebut tak boleh lagi diganggu, misalnya disembelih, atau digunakan untuk maksud apa pun, tetapi harus dipelihara dengan baik. Ia juga harus dibiarkan sesukanya meminum air atau memakan rumput di mana pun.

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply