Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Televisi Merenggut Fungsi Mendidik Guru

Oleh: Selviana Zakiyah*
Munculnya televisi adalah sebuah keniscayaan sejarah yang tak gampang untuk ditolak. Kehadirannya merupakan konsekuensi dari perkembangan teknologi komunikasi massa, yang telah membawa perubahan-perubahan berarti bagi masyarakat. Dengan adanya televisi pulalah masyarakat mengalami percepatan kemajuan.
Oleh karenaitu, perkembangan tersebut juga membawa dampak perubahan format hidup masyarakat. Bahkan,masyarakat saat ini tidak lagi mengandalkan komunikasi melalui face to face communication, tetapi telah melalui media massa (cetak dan elektronik). Di samping itu, pola pikir dan prilaku mereka sangat dipengaruhi oleh media massa pula.
Dampak yang terjadi di masyarakat seperti yang dikemukakan di atas, tak hanya berdampak pada pola hidup masyarakat saja, melainkan sangat berpengaruh pada perkembangan anak-anak. Misalkan saja, ketika ditayangkan program  televisi “Indosat Galileo” melalui “keluarga cemerlang”, dalam banyak cerita mengatakan bahwa setelah menonton siaran tersebut, anak-anak jadi semangat mempelajari fisika atau IPA (bagi anak yang masih SD), bahkan anak-anak juga mendapat pelajaran tentang nilai keluarga dan bagaimana cara keluarga sederhana itu mengatasi kesulitan hidup mereka sehari-hari.
Semakin banyak anak menonton televisi maka semakin kuat dampak yang ditimbulkan. Dengan kata lain, semakin seringnya anak menonton televisi semakin sedikit minatuntuk melakukan aktivitas lainnya, seperti belajar dan membaca.Sehingga, dapat menimbulkan persoalan, bahwa televisi telah menumpulkan kecerdasan seseorang.
Televisi mempunyai dampak yang hebat pada sikap  dan perilaku anak-anak karena ia tak jarang menghabiskan waktunnya di depan televisi, sehingga persoalan pun muncul bahwa anak-anak terpengaruh oleh apa yang disajikan televisi. Televisi, dalam posisi ini sudah diposisikan sebagai seorang guru.  Yang mana sang guru itu berceramah, bercerita, memberikan informasi, memberikan persuasi pada anak-anak tersebut. Dengan demikian itu, mereka tanpa sengaja menurut dengan apa yang disajikannnya bisa menghibur, sementara pelajaran mereka disekolah, dianggapnya membebani, meskipun berguna bagi massa depan mereka.
Mengenai fenomena keterpengaruhan televisi, menurut teori kultivasi menjelaskan bahwa televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi itu  belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Sehingga, media memengaruhi penonton dan masing-masing penonton itu meyakininnya bahwa apa yang disajikan televisi benar adanya.
Sementara itu, televisi sebenarnya telah menawarkan sebuah budaya baru bagi masyarakat. Budaya itu akan menarik perhatian masyarakat bahkan cenderung mengikutinnya. Oleh karena itu, televisi sebagai budaya baru menawarkan banyak hal seperti halnya ide/gagasan, aktivitas, dan hasil karya kepada masyarakat. Misalnya, gaya pakaian anak-anak sekarang berbeda dengan tahun sebelumnya mengenai atribut budaya dan yang mengubahnya adalah televisi.
Televisi akhirnya menciptakan budaya massif pada diri anak-anak karena ia menganggap apa yang disajikan televisi, itulah budaya modern dan harus ditiru. Sehingga, anak-anak beranggapan bahwa televisi merupakan  komunitas tempat imitasi baru.
Selain itu, televisi dapat menurunkan prestasi anak. Hal ini membuktikan bahwa terlalu banyak seorang anak menonton televisi berdampak buruk pada keberhasilan berprestasi sekolah bahkan dapat berpengaruh negative atas pelajaran dan perkembangan anak tersebut. Karena demikian, untuk reformasi pendidikan harus disesuaikan dengan reformasi dirumah kebiasaan menonton TV yang dilakukan.
Adapun mengenai dampak itu sendiri, secara tidak langsung dapat melekat pada diri anak tersebut karena televisi menyiarkan program yang tidak mendidik artinya ketika anak-anak mempunyai prilaku amoral seperti halnya karena pengaruh banyaknya menonton televisi bisa dikatakan televisi memang sedang mendidik anak-anak. Namun, hal ini juga berarti bahwa televisi  telah merenggut pendidikan yang selama ini diajarkan oleh guru. Bukan memberikan dampak yang baik namun malah sebaliknya.
 *Sekretaris diCenter for Democracy and Religious Studies (CDRS) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Dimuat di Jateng Ekspres, 4 Maret 2015

About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply