Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Rindu Pemimpin Bermental Soekarno-Hatta

Oleh: Nurul Husna*
“Enam puluh tahun dengan pemimpin yang dzalim (masih) lebih baik dari pada semalam tanpa penguasa”. (Ibnu Taimiyah)
Jika kita menelisiklebih mendalam ungkapan Ibnu Taimiyah tersebut, itu cukup mengindikasikan bahwa eksistensi pemimpin sangatlah urgen bagi sebuah negara. Pasalnya, kejayaan atau keruntuhan sebuah bangsa sangat berkaitan erat dengan faktor kepemimpinan. Sebab, pemimpin merupakan ujung tombak pemerintahan yang mengatur, mengayomi, melindungi, serta memberikan kesejahteraan rakyat. Bahkan, tinggi rendah harkat martabat rakyat juga ditentukan oleh pemimpinnya
Namun, yang perlu diperhatikan adalah bukan berarti suatu negara boleh dipimpin oleh orang yang dhalim, apalagi dalam kurun waktu enam puluh tahun. Melainkan, kita sebagai rakyat Indonesia harus selektif dalam memilih sosok pemimpin. Tentunya kita mendambakan sosok pemimpin yang mampu menyongsong Indonesia ke arah yang lebih baik. Pemimpin dengan kriteria jujur, berani, tegas, adil, bijaksana dan berjuang sepenuh tenaga.
Nah, apabila dikontekskan dengan keadaan Indonesia saat ini yang tengah mengalami krisis kepemimpinan, tentu pemimpin dengan kriteria di atas sangat diharapkan hadir ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Mengingat selama ini kebanyakan para elite politik menampilkan dua wajah, yakni yang menyeru kebaikan di depan publik, akan tetapi diam-diam bertindak sendiri memperkaya diri. Hal ini yang harus diwaspadai oleh masyarakat Indonesia. Jangan sampai ketika perhelatan pemilu, rakyat tertipu oleh pemimpin polesan. Ibnu Khaldun juga telah mengingatkan, bahwa hancurnya peradaban sebuah negara salah satu penyebanya adalahkedzaliman pemimpinnya.
Memang tidak mudah mencari sosok pemimpin yang ideal. Degradasi moral pemimpin yang terus berlanjut hingga saat ini menjadikan bangsa Indonesia terus konsisten dalam keterpurukan. Misalnya, ‘budaya korupsi di Indonesia masih menjadi problematika akut yang sulit dipecahkan.
Kini, rakyat sudah bosan menyaksikan kelakuan para pemimpin yang tidak memiliki tanggungjawab, namun justru hanya menyengsarakan rakyat. Oleh karena itu, saat ini masyarakat Indonesia sangat berharap memiliki sosok pemimpin yang jujur dan bertanggung jawab serta memiliki niat serius untuk mensejahterakan kehidupan mereka.
Berbicara mengenai pemimpin Indonesia, Sukarno-Hatta adalah dua sosok pemimpin yang sangat berpengaruh dalam panggung perpolitikan Indonesia di masa silam. Karena track recordnya yang hebat itulah membuat nama mereka dikenang hingga kini. Keduanya merupakan pasangan yang sangat klop dalam memimpin Indonesia. Dimana Soekarno adalah sosok yang berkarakter nasionalis dan Hatta yang memiliki orientasi terutama pada perekonomian rakyat. Selain keduanya sebagai proklamator, mereka juga memiliki sifat-sifat pemimpin yang dibutuhkan Indonesia, diantaranya nasionalis, simpatik, cerdas, berani, humanis, amanah, reformis, anti korupsi dan lain-lain. Sehingga, meski keduanya telah meninggal dunia, namun nama harum mereka masih dikenang oleh masyarakat Indonesia.
Kreteria pemimpin seperti Soekarno-Hatta itulah yang cocok untuk memimpin Indonesia ke depan, apalagi melihat kondisi Indonesia yang tengah dilandaberbagai problematika. Menurut peneliti senior Indonesia Public Institute, Karyono Wibowo, kepemimpinan Indonesia kini sangat jauh berbeda dengan kepemimpinan terdahulu, bahkan berbanding terbalik. Hal itu bisa dilihat dari semangat pendiri bangsa terdahulu, dimana energi pemimpin terdahulu hanya untuk kemaslahatan umat.
Nah, merujuk pada kriteria di atas, lalu siapakah nanti sosok yang akan mampu menjadi pemimpin yang memiliki mental seperti Soekarno-Hatta? Semoga, Jokowi-JK mampu tampil menjadi sosok pemimpin sebagaimana Soekarno-Hatta sehingga dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara yang lebih baik, maju, dan sejahtera. Amin.
*Ketua Pusat Kajian Pendidikan untuk Revolusi Mental (PKPRM) UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Jateng Ekspres, 5 Maret 2015



About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply