Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

» » Dari Guru Menuju Indonesia Maju

Oleh: Mahfudh Fauzi*

Berhasil atau tidaknya pendidikan, posisi guru selalu menjadi penentu. Hal itu sesuai dengan ungkapan Dr. Uhar Suharsaputra, bahwa kualitas guru berkaitan erat dengan mutu pendidikan yang dihasilkan. Sedangkan mutu pendidikan, akan mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang maju. Selama ini, penguatan pendidikan selalu menjadi alternatif setiap negara maju. Sebab, sumber daya manusia yang unggul mampu berperan aktif dalam memajukan bangsa.
Sadar bahwa pengaruh guru dalam dunia pendidikan sangat urgen, maka kualitas dan kuantitas guru harus terkontrol. Pemerintah harus bertanggung jawab atas hal itu, terutama mengenai suplai guru yang memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional. Terpenting bagi daerah tertinggal, walaupun fasilitas belum memadai, setidaknya guru yang berkualitas harus terpenuhi. Jangan sampai generasi bangsa putus sekolah gara-gara kehabisan stok guru. Sebab, di Indonesia anak putus sekolah mencapai angka 4,9 juta anak.   
Langkah pertama untuk mengontrol stabilitas guru yaitu dengan memenuhi kebutuhan pokok guru. Hakikatnya seorang pendidik harus selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu, agar konsentrasi dalam proses transformasi ilmunya dapat berjalan dengan optimal. Mendidik bukan semata-mata untuk mengais harta, namun diniati untuk ibadah. Jadi guru mengajar bukan karena panggilan gaji, namun panggilan hati. Karena itulah guru dinilai sebagai pekerjaan paling mulia.
Berangkat dari itu, sertifikasi guru dianggap sebagai program memuliakan guru setelah disahkannya UU No.14 Tahunn 2005 tentang Guru dan Dosen. Sebelumnya ada tida jenis sertifikasi guru, Pemberian Sertifikasi Langsung (PSPL), Portofolio, dan PLPG. Namun, mulai tahun 2015 ketiga pola sertifikasi tersebut tidak digunakan lagi. Pemerintah menggantinya dengan melaksanakan program Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan (PPGJ).
Menguatkan Tradisi Akademi
Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, mengakibatkan pendidikan nasional tak kunjung membaik. Menurut data dari UNESCO Tahun 2012, minat baca Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1000 orang hanya membaca 1 buku. Indonesia kalah dengan Singapura yang minat bacanya mencapai angka 0,55. Artinya, dari 1000 orang membaca total 550 buku. Karena itulah budaya minat baca Indonesia masih dalam kategori rendah. (Elzafina: Membaca, Membangun Peradaban)
Tradisi akademi Indonesia memang masih rendah. Hal itu dikarenakan disfungsi dari berbagai lini di sektor pendidikan. Untuk menjaga image almamater, pihak instansi menuntut lebih agar siswa mampu mendapatkan nilai sebaik mungkin. Dari pihak guru, karena terkendala oleh faktor ekonomi, tidak jarang guru mengajar hanya karena tuntutan kerja. Pihak siswa juga ikutan disorientasi, belajar hanya untuk mencari teman, mengisi waktu luang, atau sebagai ajang tempat pamer.
Lebih fokus menilai kualitas guru, guru dituntut untuk terus memperkaya khazanah keilmuannya. Jangan sampai guru justru terjebak dalam urusan tekhnis pembelajaran, serta urusan privasi keluarga. Ujian menjadi guru memang variatif, namun jika mampu mensiasatinya maka berprofesi sebagai guru akan sangat menyenangkan. Urusan pribadi selesai, maka urusan mengajar akan maksimal.
Agar guru tidak terjebak dalam urusan tekhnis, maka manajemen waktu sangat dibutuhkan. Diakui guru memiliki nilai lebih dalam hal akademik, namun dalam urusan mengatur waktu tidak sedikit yang mahir. Guru memang dituntut lebih kritis, aktif, inovatif, dan kreatif dalam segala hal. Bagaimana harus mengurus keluarga, mengurus siswa, membaca, berdiskusi, dan menulis. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa kualitas guru sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa.
Guru Harus Mampu
Salah satu penunjang kualitas guru adalah dengan aktif melaksanakan diskusi, aksi, dan publikasi. Ketiganya harus rutin dilakukan agar tradisi akademi benar-benar kuat. Sebab hal itu akan berpengaruh terhadap output dunia pendidikan. Siswa yang terlahir dari rahim tradisi akademi yang kuat, maka kualitasnya tidak diragukan lagi. Buah tidak jauh dari pohonnya, maka kebiasaan diskusi, aksi, dan publikasi guru akan senantiasa dibudayakan oleh anak didiknya.
Oleh sebab itu, guru harus selalu memotivasi dirinya sendiri untuk lebih fokus memajukan bangsa melalui sektor pendidikan. Sadar bahwa posisi guru berada di ujung tombak pendidikan, maka integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab yang diemban harus dijalankan sesuai amanah suci seorang pendidik. Guru harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Karena alur globalisasi begitu deras, maka dibutuhkan penyesuaian dari sektor pendidikan untuk merespon globalisasi dengan bijak.
Penulis yakin, guru pasti mampu. Jika menilik kemajuan Jepang, maka berprofesi guru akan lebih bangga dan bersemangat. Sebab Jepang dibangun atas dasar jiwa heroik seorang guru, sebagai penguatan pendidikan. Karena itu, pengembangan wawasan dan kemampuan guru harus terus diasah. Setidaknya ditunjukkan dengan rajin berkunjung ke perpustakaan dan “melalap’ isi buku yang ada. Ingat, menurut Ernest Hemingway (1899-1961), tidak ada teman setia selain buku.
Jadi, penyadaran harus selalu dilakukan, bahwa dari guru akan menuju Indonesia maju. Tidak ada gunanya sumber daya alam melimpah jika sumber daya manusianya lemah. Apa gunanya bangsa ini besar tapi masyarakatnya tak memiliki pengetahuan mendasar. Bagaimana bangsa Indonesia dapat memiliki era peradaban emas, jika gurunya tidak berkualitas dan muridnya malas. Artinya, deklarasi memperbaiki sektor pendidikan harus segera dilakukan, terutama pihak guru.

Untuk mewujudkannya, pemerintah diharapkan dapat perperan banyak. Pemerintah seharusnya sadar dengan posisinya, dan harus mau mewujudkan harapan terkait kemajuan pendidikan. Yaitu dimulai dengan mengatur seleksi penerimaan guru berbasis meritokrasi, selanjutnya menjamin kebutuhan guru secara maksimal, ikut mengawasi kinerja guru, dan terakhir memberi dana pensiun kepada guru pahlawan tanpa tanda jasa. Wallahu a’lam bi al-shawwab.***

*Penulis adalah Pegiat di Surat Kabar Mahasiswa  (SKM) Amanat UIN Walisongo Semarang

Dimuat di Harian Analisa, Sabtu, 7 Maret 2015



About Mokhamad Abdul Aziz

Penulis lepas, Direktur Eksekutif Monash Institute Semarang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply