Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

Gerakan Shalat Jama'ah

Dr. Mohammad Nasih, M.Si*


“Seorang ulama besar pakistan, Syaikh Maulana Tariq Jamil Menyampaikan pengalaman dakwahnya ketika pergi ke daerah perbatasan Yordania-Israel. Disana, saat selesai menunaikan ibadah shalat shubuh di masjid, ada seorang tentara Israel yang melihat sebentar kedalam masjid, setelah melihat lantas prajurit israel tersebut pergi dari masjid, maka Syaikh Maulana Tariq Jampil menghampiri tentara tersebut, dan bertanya apa yang dilakukan tentara tersebut. 
“Saya Hanya Ingin melihat jumlah orang islam yang shalat shubuh berjama’ah di masjid” jawab tentara itu.
“Kenapa?” tanya Syaikh Maulana Tariq Jamil.
“Karena menurut kitab suci kami, saat di seluruh dunia jumlah jama’ah shalat subuh menyamai jumlah jama’ah shalat jum’at maka Israel akan hancur “ jawab tentara itu lagi.
Benar atau tidak kisah ini, shalat jama'ah sangatlah penting kita lakukan.

Shalat jama'ah berkaitan dg kejayaan umat Islam. Jika jama'ah shalat shubuh sdh sama dg jama'ah shalat Jum'at, kita akan kembali melihat umat Islam mengalami kejayaan. Namun, jika jama'ah shalat shubuh hanya satu atau beberapa baris saja, kejayaan itu masih sangat jauh. Dan jangan sampai kita jadi penyebabnya. Mari kita mulai.
Tidak ada lelaki cakep yang tidak shalat berjama'ah. Perempuan mendapatkan keringanan untuk tidak pergi ke masjid untuk shalat berjama'ah, karena harus mengurus anak-anaknya dan seringkali karena urusan ini perempuan tidak berdaya karena anaknya merengek, bahkan kena ompol. Karena itu, perempuan yang belum mengurus anak, segeralah bersiap menjalankan shalat shubuh berjama'ah. Jangan sampai tidak mendapatkan keutamaan shalat berjama'ah. Tidak ada lajang cakep yang tidak shalat berjama'ah. Mari kembalikan kejayaan umat Islam dengan shalat berjama'ah. Jangan sampai kita menjadi penyebab umat Islam mengalami keterpurukan. Dimulai dengan shalat berjama'ah, lalu juga berjama'ah di luar shalat.


Belajar Politik Lewat Internet


Saya bukan mahasiswa Ilmu Politik, tetapi sangat tertarik dengan bahasan politik. Lewat internet, belajar politik pun bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Sekarang ini, politik menjadi komoditas yang cukup diminati di internet, terutama mahasiswa dan kalangan menengah ke atas. Pemberitaan mengenai perkembangan politik tanah air selalu menjadi hal yang menarik disimak. Situs-situs terpercaya seperti, kompas.com, republika.co.id, tempo.co, detik.com, vivanews.com, selalu menjadi santapan segar di saat santai.
Perkembangan politik terkini pun dengan mudah diakses setiap hari. Tidak hanya membaca, kemudian mengamati, dan melupakan begitu saja berita-berita di situs tersebut, saya seringkali mengasah kemampuan analisis saya dengan menulis sebuah artikel populer. Berbekal bacaan seadanya, saya mencoba ikut mengalisis peta politik yang ada, laiknya pengamat politik yang ahli. Sesekali membaca teori-teori yang ada hubungannya dengan politik terkini.
Tentu saja tidak cukup jika hanya mengandalkan internet. Agar analisis dan teorinya tajam, mestinya juga perlu banyak baca buku, yang tidak ada di internet. Dengan keseharian yang seperti itu, saya jadi ikut memikirkan negara ini, dan bisa memberikan saran-saran dan solusi atas permasalahan yang ada, meski hanya lewat tulisan-tulisan opini.


Mengabdi untuk Sesama

Sibuk mengurus umat, itulah yang dirasakan Rina Rosia, salah satu mahasiswi Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Rina, sapaan akrabnya, tidak hanya sibuk dengan kuliahnya sebagaimana mahasiswa pada umumnya, tetapi juga sibuk mempersiapkan generasi penerus masa depan bangsa Indonesia.
“Sibuk banget pokoknya. Semoga saja tidak sok sibuk,” jelas Rina dengan nada bercanda kepada Tribun Jateng, Minggu (14/12).
Dara kelahiran 15 Desember 1992 (hari ini adalah hari ulang tahun yang ke-22) itu memiliki segudang aktivitas keumatan. Sebagai direktur di Lembaga Kajian Islam dan Feminisme (LKIF) Kota Semarang, Rina sering mengadakan literasi kesetaraan gender kepada masyarakat.
Selain itu, menjabat sebagai sekretaris direktur di Monash Institute Semarang, sebuah lembaga nirlaba yang fokus dalam pembinaan calon pemimpin masa depan, membuat Rina sering berpusing-pusing. Tidak jarang Rina berkontemplasi sejenak.
Ya, namanya juga mengurus orang lain, pasti tidak semudah mengurus diri sendiri. Apalagi mereka memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Tentu saja lebih sulit,” jelas Rina.
Tetapi bagi dia, itulah hidup. Tanpa kesulitan dan cobaan, hidup tidak akan terasa indah. “Sebagai khalifah di muka bumi, manusia punya kewajiban mengabdikan dirinya semata-mata kepada Tuhan. Tentu ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam rangka menjalankan tugas itu,” papar gadis semester tujuh itu.
Di Monash Institute, Rina memiliki banyak teman yang memiliki cara pandang yang hampir sama. Rina yang bercita-cita menjadi bupati Pati, selalu berusaha agar dirinya punya arti bagi orang banyak.
Bagi mahasiswi kelahiran Pati itu, hidup tidak sekedar untuk diri sendiri. Lebih dari itu, manusia harus bermanfaat bagi sesama. “Nabi pernah berkata, sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat kepada manusia lain. So, mari kita buat diri kita bermanfaat sebesar-besarnya untuk orang lain,” ajak Rina.

Sebagai remaja yang berusia 22, tentu Rina tidak melewatkan begitu saja masa mudanya, sebagaimaa remaja lainnya. Rina memiliki banyak koleksi jilbab dan busana muslim modern. “Suka aja sih, melihat diri sendiri tampak cantik. Coba lihat, cantik tidak?” kata Rina menggoda Tribun Jateng. (Mokhamad Abdul Aziz ).
Tribun Jateng, 16 Desember 2014

Berpolitik Sebagai Panggilan

Berpolitik Sebagai Panggilan
Menjadi seorang perempuan, tak menghalangi Siti Iskarimah menjadi seorang aktivis. Mahasiswi pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam (MPI) IAIN Purwokerto itu memilih menjadi aktivis mahasiswa. Dan kini, ia memiliki tugas baru. Tugas ini bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Pada awal Januari 2015, dara kelahiran Banyumas, 20 Mei 1991 itu akan dilantik menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto.
“Ini tugas berat, tetapi ini adalah panggilan. Saya pun akan menyesuaikan diri dengan tugas itu,” kata Iis, sapaan akrabnya, Senin (15/12). Iskarimah mengakui bahwa untuk jabatan sekelas ketua umum cabang, apalagi HMI, tentu tidak sembarangan dia menerima mandat itu.
“Bagi saya, ini salah satu perjuangan politik saya. Kalau di HMI, tentu aktivitas politik saya akan seluruhnya saya orientasikan kepada proses perkaderan yang ada di organisasi mahasiswa tertua itu,” kata Iis saat ditemui Tribun Jateng.
Mengapa jabatan ketua umum organisasi mahasiswa dianggapnya sebagai proses politik, Iis menjelaskan perihal tersebut. “Politik berarti mengatur dan melayani. Jadi, meski saya belum masuk partai politik, ini saya anggap sebagai perjuangan politik. Karena pada dasarnya saya menjalankan tugas politik itu (pengaturan dan pelayanan, red) kepada mahasiswa aktivis.
Bagi dia, politik harus berorientasi kepada kemakmuran rakyat. “Dalam konteks mahasiswa, tentu saya akan berusaha memakmurkan mahasiswa, dalam arti memberikan pelayan terbaik terkait kebutuhan mahasiswa, terutama menjadi insan akademis,” ungkap Iis.
Politik juga harus dilandasi keikhlasan dan sifat profetik. “Dengan ikhlas, selain memberikan pelayanan kepada para mahasiswa, tentu ini akan juga berdampak pada kualitas diri saya pirbadi. Apalagi saya perempuan, ini menjadi tantangan tersendiri,” akunya.

Iis berharap agar para perempuan tidak takut dan segan-segan untuk terjun di dunia politik. Dia mengaku prihatin atas ketidakmampuan perempuan dalam memenuhi keterwakilan minimal 30 persen perempuan di parlemen. “Perempuan juga punya kemampuan memimpin. Jadi, jangan beda-bedakan antara laki-laki dan perempuan dalam konteks berpolitik,” pungkasnya.
(Mokhamad Abdul Aziz)
Tribun Jateng, 15 Desember 2014

Berusaha Hidup Mandiri

Berusaha Hidup Mandiri

Sibuk berkerja di sebuah perusahaan garmen di Ungaran, Kabupaten Semarang, tidak membuat Roisatul Khasanah melupakan pendidikannya. Dara kelahiran Madiun itu, memilih menjalankan keduanya secara bersama-sama. “Kuncinya adalah bagaimana kita bisa mengatur waktu. Dijalani dengan senang hati saja,” kata Rois, sapaan akrabnya, kepada Tribun Jateng, Selasa (16/12).
Setiap hari mulai pukul 07.00 wib, Rois berangkat kerja sampai sore hari. Hal ini dilakukan agar dia bisa memenuhi kebutuhan sendiri. “Sebuah kepuasan tersendiri ketika bisa cari uang sendiri. Bahkan kalau bisa mengirim uang kepada keluarga yang di Rembang. Hemm, sungguh nikmat rasanya,” kata gadis kelahiran 16 Desember 1992 ini.
Saat ini, Rois berkerja di Ungaran Sari Garment (USG) sebagai operator produksi. “Aku kira, penghasilannya lebih dari cukup. Pandai-pandai bersyukur sajalah,” kata mahasiswi semester tiga tersebut.
Kuliah jurusan akuntansi di Universitas Pandanaran (Unpand), Rois sengaja mengambil kelas weekend, agar tidak mengganggu kerjanya. Setiap Sabtu-Minggu, dia fokus kuliah. Sisanya dia maksimalkan untuk berkerja.
Harapannya, sebagai anak bangsa yang hidup di zaman yang kompetitif ini, pemuda-pemudi seharusnya mampu hidup mandiri. Sehingga bisa diharapkan menjadi penerus bangsa yang lebih baik. “Satu kuncinya, jangan lupakan pendidikan. Sebab itu sangat penting untuk masa depan kita,” ungkap Rois penuh harap.
Semua itu, bagi dia, tidak pernah dianggap menjadi beban. Rois mengakui, banyak teman yang senasib dengannya, sehingga menjalankan aktivitasnya dengan senang hati. “Kata teman-teman, aku ini orangnya tomboy, merasa harus jadi orang kuat aja sih,” kata Rois.
Cita-cita dara berusia 22 tahun itu sangat sederhana. Dia hanya ingin orang tuanya bangga dengan dirinya. Apalagi dia punya adik, yang masih sekolah. “Cukup melihat mereka bahagia saja. Itu sudah melebihi cita-citaku,” pungkasnya.

(Mokhamad Abdul Aziz)
Sumber: Tribun Jateng, 18 Desember 2014

Semakin Gandrung dengan Aktivitas Sosial


Sudah menikah sejak 22 Agustus 2014 lalu, tidak menjadikan Siti Nur Malikhah kehilangan kesibukan lamanya. Mahasiswa Pascasarjana Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini justru semakin sibuk menggeluti dunia sosial kemasyarakatan. Malikha, begitu ia akrab disapa, saat ini tengah menjalankan tugasnya sebagai Ketua Umum KOHATI (Korp-HMI-Wati) Badko Jateng-DIY.
Baginya, menikah bukan menjadi sebuah penghalang untuk terus berkarier, juga berjuang untuk bangsa dan negara. “Aktivitas saya masih sama, seperti sebelum menikah. Tetap melanjutkan kesibukan sebagai seorang aktivis,” kata Malikha kepada Tribun Jateng, Ahad (21/12).
Wanita yang memiliki hobi baca pikiran orang ini juga nampak lebih percaya diri dalam menjalankan tugasnya pasca menikah. Dia menikah dengan Azka Najib, teman dia saat berorganisasi di HMI dulu. “Saya sangat bersyukur, suami mendukung penuh aktivitas saya. Dia paham, karena Mas Azka juga seorang aktivis,” tutur Malikhah.
Dara kelahiran Demak, 9 Desember 1990 ini, saat ini justru sedang sibuk mempersiapkan pelantikan pengurus Gerakan Hidupkan Mahsyarakat Sejahtera (Gerakan HMS) Jawa Tengah. Dia yang ditunjuk menjadi koordinator Gerakan HMS Jateng. “Ini tugas baru yang, menurut saya berat dan akan menjadi tantangan tersendiri,” kata gadis yang tinggal di Ngaliyan, Semarang ini.
Lewat Gerakan HMS ini, dia akan semakin banyak lagi mengambil peran dalam dunia sosial kemasyarakatan yang digelutinya. “Karena ini berbasis gerakan, jadi akan lebih banyak aksi nyatanya,” ungkap Malikhah.

Menurutnya, tanpa aktivitas sosial yang berdimensi kemanusiaan, hidup manusia tidak akan pernah menjadi sempurna. Sebab, itu adalah fitrah manusia. Mahasiswi yang bercita-cita menjadi gubernur Jateng ini berharap bisa terus mengasah kemampuan dalam dunia sosial kemasyarakatan. “Kita ini kan makhluk sosial ya. Jadi harus pandai bersosial. Saling membantu satu sama lain,” pungkasnya. (Mokhamad Abdul Aziz)
Tribun Jateng, 22 Desember 2015