Select Menu

Disciples Menulis

Opini

Artikel Tamu

Inspirasi

Perspektif

Nasihat

Mahasiswa Sembelih ‘Jokowi’ di Depan Gedung DPRD Jateng

http://berita.suaramerdeka.com/konten/uploads/2015/03/demo-HMI.jpg
DEMO: Aksi unjuk rasa yang dilakukan Himpunan Mahasiswa ISlam (HMI) Komisariat Tarbiyah UIN Walisongo di depan gerbang pintu Gedung Berlian (DPRD Jateng), Senin (30/3). (suaramerdeka.com/ Puthut Ami Luhur)

SEMARANG, suaramerdeka.com– Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah UIN Walisongo Semarang, menyembelih ayam yang diibaratkan sebagai Jokowi, di depan pintu gerbang Gedung Berlian (DPRD Jateng).

Mereka menyembelih ayam menurut koordinator aksi Nur Kholis mengibaratkan, matinya pemerintahan di republik ini. “Menyembelih ayam, lalu mati seperti itulah pemerintah saat ini. Dengan matinya ayam, maka seperti itulah Jokowi,” katanya di sela-sela aksi, Senin (30/3).

Mereka menganggap presiden juga telah mati, dengan matinya ayam yang baru saja disembelih Nur Kholis dengan kawan-kawannya. Ia berjanji, akan kembali menggelar aksi yang sama dan lebih besar di tempat yang sama jika tidak ada perubahan.


Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/mahasiswa-sembelih-jokowi-di-depan-gedung-dprd-jateng/

Sembelih Ayam, HMI Nilai Jokowi telah Menyembelih Ekonomi Pancasila

AKSI DEMONSTRASI: Aktivis Himpunan Mahasiswa ISlam (HMI) Komisariat Tarbiyah UIN Walisongo Semarang menyerahkan seekor ayam yang disembelih kepada anggoa DPRD Jawa Tengah di depan gerbang pintu Gedung Berlian, Senin (30/3). (Monash-media.com/Nailis Sa’adah).





SEMARANG, monash-media.com – Puluhan mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah Walisongo menggelar aksi damai, paska kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan gedung DPRD Jawa Tengah, Senin (30/03).
Dilansir dari suaramerdeka.com, Koordinator Aksi Nur Kholis menyatakan, mengutuk manajemen warung kopi ala pemerintahan Jokowi. “Kami menilai bahwa kebijakan menaikkan-menurunkan BBM sangat membingungkan dan merugikan rakyat kecil,” kata Nur Kholis saat berorasi di depan pintu gerbang Gedung Berlian.
Tuntutan yang pertama, sambungnya, meminta pemerintah Jokowi-JK mengkaji kembali dampak kebijakan menaikkan-menurunkan BBM bagi masyarakat, terlebih masyarakat menengah ke bawah, agar tidak seperti manajemen warkop.
Kedua Jokowi mengganti tim ekonomi pemerintahan dari yang berpaham neo-liberal menjadi ekonomi Pancasila. “Mengusut tuntas para mafia migas yang merugikan negara, terutama di dalam pemerintahan. Jika Jokowi tidak mampu memahami dan menyelesaikan persoalan ini, silahkan Jokowi pulang ke Solo,” tuturnya.

Salah satu demonstran menyebut Jokowi sudah melanggar trisakti Bung Karno yang selama ini didengung-dengungkan oleh Jokowi. "Ini tidak benar. Jokowi justru melanggar janji mewujudkan trisakti saat kampanye lalu. Turunkan Jokowi!" teriak Irfan Sona saat berorasi.
Selain berorasi, para aktivis HMI tersebut juga menyembelih ayam. Mereka menuliskan “Jokowi Mati” di secarik kertas putih dengan menggunakan darah hasil sembelihan. Ini ibarat pemerintahan Jokowi telah mati. “Menyembelih ayam, lalu mati, seperti itulah pemerintah saat ini. Dengan matinya ayam, maka seperti itulah Jokowi,” katanya di sela-sela aksi.

Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan yang mendalam terhadap kebijakan Jokowi yang dinilai tidak berpikir jangka panjang. Membelih ayam juga merupakan simbol jika Jokowi telah menyembelih dan mematikan ekonomi Pancasila.
“Jokowi hanya berpikir hari ini. Jokowi menggantungkan harga BBM pada harga minyak dunia, tanpa melihat kondisi pasa di Indonesia. Kami pikir ini sudah sangat neo-liberal. Ayam ini simbol kematian ekonomi Pancasila di tangan Jokowi”, kata Nur Kholis.
Pihaknya juga berjanji, akan melakukan aksi yang lebih besar jika tidak ada tanggapan dari pihak-pihak terkait. “Kami akan menggalang aksi yang lebih besar, sampai Jokowi sadar dan turun dari jabatannya”, pungkas Kholis sebelum massa membubarkan diri dengan tertib dan damai.


Reporter: Nailis Sa’adah
Redaktur: Mokhamad Abdul Aziz

HMI UIN Walisongo Persilahkan Jokowi Pulang Kampung


DEMO: Aksi unjuk rasa yang dilakukan Himpunan Mahasiswa ISlam (HMI) Komisariat Tarbiyah UIN Walisongo di depan gerbang pintu Gedung Berlian (DPRD Jateng), Senin (30/3). (suaramerdeka.com/ Puthut Ami Luhur)
SEMARANG, suaramerdeka.com - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah UIN Walisongo Semarang menggelar aksi damai, paska kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Koordinator aksi Nur Kholis menyatakan, menuntut Jokowi melepaskan jabatan presiden.
“Kami mengutuk manajemen warung kopi ala pemerintahan Jokowi. Kami menilai bahwa kebijakan menaikkan-menurunkan BBM sangat membingungkan dan merugikan rakyat kecil,” kata Nur Kholis sela-sela menggelar aksi di depan pintu gerbang Gedung Berlian (DPRD Jateng) Jalan Pahlawan, Senin (30/3).
Tuntutan yang pertama sambungnya, meminta pemerintah Jokowi-JK mengkaji kembali dampak kebijakan menaikkan-menurunkan BBM bagi masyarakat, terlebih masyarakat menengah ke bawah, agar tidak seperti manajemen warkop. Kedua Jokowi mengganti tim ekonomi pemerintahan dari yang berpaham neo-liberal menjadi ekonomi Pancasila.
“Mengusut tuntas para mafia migas yang merugikan negara, terutama di dalam pemerintahan. Jika Jokowi tidak mampu memahami dan menyelesaikan persoalan ini, silahkan Jokowi pulang ke Solo,” tuturnya.
Pihaknya berjanji, akan melakukan aksi yang lebih besar jika tidak ada tanggapan dari pihak-pihak terkait.
Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/hmi-uin-walisongo-persilahkan-jokowi-pulang-kampung/

Dinilai Tak Berhasil, Massa GPI Desak Jokowi Mundur



Sejumlah mahasiswa dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) Jawa Tengah menggelar unjuk rasa dengan membakar ban di Jalan Pahlawan, Semarang, kemarin. Mereka menuntut Presiden Joko Widodo untuk mundur karena dinilai tidak bisa memimpin bangsa.

SEMARANG - Puluhan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Islam (GPI) Jawa Tengah mendesak Presiden Joko Widodo untuk segera mundur dari jabatannya.
 
Mereka menilai mantan Gubernur DKI Jakarta itu dinyatakan telah gagal dalam memimpin bangsa ini. Desakan itu disuarakan para pemuda dalam aksi unjuk rasa yang digelar di depan kantor DPRD Provinsi Jateng, Jalan Pahlawan Kota Semarang kemarin. “Jokowi adalah pembohong besar, banyak kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Mari kita teriakkan agar Jokowi turun sekarang juga,” kata para demonstran.

Tak hanya membawa spanduk bertuliskan desakan agar Jokowi mundur, para peserta juga membawa atribut tambahan berupa keranda dan boneka pocong. Usai aksi, keranda dan boneka pocong tersebut kemudian dibakar bersama-sama. “Ini adalah bentuk kekecewaan kami terhadap kepemimpinan Jokowi sebagai presiden.

Di mana selama 150 hari memimpin Indonesia, tidak banyak perubahan yang terjadi. Justru merupakan sebuah kemunduran,” kata koordinator aksi Rudi Sharudin Ahmad. Rudi menambahkan, Jokowi dinilai telah membohongi rakyat Indonesia. Selama memimpin, dia telah gagal mewujudkan janji-janji kampanyenya saat itu yang dikenal dengan Nawa Cita.

“Nawa Cita yang didengungkan Jokowi sempat membuat masyarakat memiliki harapan tentang negeri ini. Namun realitasnya saat ini, masyarakat justru semakin menderita karena banyak kebijakan Jokowi yang menenggelamkan masyarakat kecil,” ucapnya. Menurut Rudi, justru Jokowi sendiri telah melanggar Nawa Cita yang diumbar saat pelaksanaan kampanye.

Seperti janji mengelola negeri ini dengan bersih diciderai oleh kasus- kasus yang selama ini terjadi, khususnya konflik KPK, Polri, dan Kejaksaan. Bahkan menjurus pada pelemahan lembaga pemberantas korupsi itu. Selain itu, janji Jokowi untuk memperbaiki daerah pinggiran hingga kini masih sebatas opini semata.

Selama ini, tidak ada keseriusan pemerintah membangun infrastruktur kawasan pinggiran guna mendukung pengembangan wilayah itu. “Selain itu, banyak lagi hal-hal yang membuktikan bahwa Jokowi telah gagal dalam memimpin negeri ini. Dia telah mencederai amanat rakyat yang diberikan kepadanya,” kata Rudi.

Sumber:http://www.koran-sindo.com/read/982059/151/dinilai-tak-berhasil-massa-gmi-desak-jokowi-mundur-1427441895